Broadcast Message tentang Mobil Mati di Perlintasan KA, Ilmiah atau Tidak?

Nograhany Widhi K - detikNews
Jumat, 11 Des 2015 14:04 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Beberapa hari lalu ada bus Metromini menerobos palang perlintasan kereta api. Lepas itu, benarkah mitos mobil bisa mati tiba-tiba di perlintasan KA?

Ada broadcast message beredar di aplikasi pengirim pesan demikian:

Penting buat kita semua

INFO PENTING BAGI PENGEMUDI MOBIL.

Penjelasan kenapa mesin mobil sering mati di atas perlintasan sebidang rel KA?

Orang awam mengira hal ini disebabkan karena perlintasan tsb angker/kurang sajen dan kemenyan/ada demit dll

Penjelasan teknis :

Di lokomotif ada boggie (roda kereta) dimana komponen utamanya adalah dinamo, di dlm dinamo ada unsur magnet yang cukup besar, jika lokomotif seri CC berarti ada 3 rangkaian boggie (6 buah dinamo besar). Hal ini berdampak pada rel yang terbuat dari baja dapat menghantarkan medan magnet sejauh 1 Km dari lokomotif.

Saat kendaraan bermotor melintasi rel KA, biasanya menggunakan kecepatan rendah, apabila pengendara tidak memindahkan gigi mesin yang lebih rendah maka putaran mesin dinamo kendaraan bermotor dan koil yang ada dapat seketika mati akibat faktor medan magnet boggie KA yang dihantarkan oleh rel KA.

Oleh karena itu petugas JPL selalu menutup pintu perlintasan sebelum KA mendekati perlintasan (berjarak -+ 3 Km). Bila ada pengemudi tetap menerobos/melintasi rel KA yang berjarak kurang dari 1 km akan mengakibatkan mesin dinamo dan koil mobil yang sudah lemah dapat mati (mesin mati).

Bila hal ini terjadi segera keluar dari mobil Anda, karena mesin mobil akan susah untuk di-starter kembali.

Maka disarankan jangan melintasi rel KA bila sudah terlihat KA walaupun masih berjarak 1 Km dari perlintasan sebidang demi keselamatan Anda. Ingat, KA tidak bisa mengerem mendadak karena roda dan rel terbuat dari baja sehingga tidak ada friksi, rata-rata KA akan berhenti sejauh 800 M setelah direm.

Broadcast tersebut mengatasnamakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perkeretapian.

Informasi tersebut coba detikcom konfirmasi ke Kemenhub. Melalui Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) JA Barata, Kemenhub menyatakan informasi tersebut belum teruji ilmiah.

"Itu belum ada yang bisa buktikan. Iya kan belum ada secara ilmiah, belum bisa dibuktikan. Memang ada kumparan, ada segala macam, namun belum ada pembuktian ilmiah," kata Barata, Jumat (11/12/2015).
(nwk/nrl)