Begitu keluar dari gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh tempat acara digelar, Anies disambut oleh sejumlah panitia di luar. Mereka meminta Menteri Anies menulis pesan dan kesan terkait terselenggaranya kegaitan KPA perdana. Setelah berpikir sejenak, ia kemudian mengambil sebuah spidol.
"Izinkan bahasa-bahasa daerah di Aceh makin berkembang dan mengaliri kekayaan bahasa Indonesia. Biarkan anak cucu kita bangga karena kegemilangan peradaban ini terus makin memancar lewat kekayaan bahasanya," tulis Anies. Di bawahnya, terdapat tanda tangan, tanggal dan nama lengkap penulis yaitu "Anies Baswedan".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Anies, di Aceh terdapat 13 bahasa daerah dan yang masih banyak penutur hingga kini adalah bahasa Aceh. Bukan hanya variasi yang banyak, tapi bahasa di Aceh juga terbuka pada asimilasi bahasa dari daerah lain.
"Di Aceh ada bahasa yang dialeknya sama dengan bahasa Padang yaitu bahasa Jamee. Dan ada juga beberapa yang lain," ungkap Anies.
Dalam sambutannya, Anies menyebut, masyarakat Indonesia kini perlu memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan sering menggunakan bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah yang sudah mati pun harus dihidupkan kembali.
Ia mencontohkan kosakata Inggris yang diserap dari berbagai bahasa di Indonesia. Setiap tahun, kosakata Inggris terus bertambah. Sedangkan kosakata Indonesia yang tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hingga 2015 baru 91 ribu.
"Bagaimana cara kita menghidupkan bahasa yang terancam mati, yaitu dengan menggunakannnya. Sekarang kita perlu memperkaya kosakata dari nusantara," jelas Anies. (imk/imk)











































