"Tanya saja dia (Novanto) lah, jangan tanya saya. Atau tanyakan saja ke (orang) yang lain," kata Luhut saat diwawancarai di Restoran Telaga Sampireun, Tangerang, Banten, Rabu (9/11/2015) siang.
Luhut juga tak mau mengomentari keterangan Novanto di sidang MKD yang membantah jadi inisiator pertemuan antara dirinya, pengusaha minyak Reza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal kasus 'papa minta pulsa' ini, Luhut sendiri memang secara tidak langsung ikut terseret. Namanya banyak disebut dalam rekaman pertemuan antara Novanto, Reza Chalid dan Maroef.
Luhut sendiri merasa terusik namanya ikut dibawa-bawa di kasus 'papa minta saham'. Dia bahkan menantang agar MKD memanggil dirinya besok, Kamis (10/12) untuk memberikan keterangan soal posisinya. Luhut siap bicara blak-blakan.
Ketika ditanya soal kasus ini, Luhut tak mau menjawab. Namun dia memastikan akan bicara jika MKD memanggil dirinya besok. "Nantilah, kalau diundang saya akan jelaskan. Kau dengarkan saja di sana," imbuhnya.
Artinya, Anda siap diundang MKD untuk hadir di persidangan? "Bukan siap diundang, tapi saya justru minta. Beda itu," tegasnya. Jika MKD tak melakukan pemanggilan dirinya pada Kamis besok, dia berencana akan menggelar jumpa pers pada Jumat (11/12).
"Malah kalau bisa, kau bantu saya supaya dipanggil (MKD) besok. Karena kalau saya tidak dipanggil besok, lusa saya mau bikin konferensi pers mengenai posisi saya, supaya clear," sambung Luhut. Dia tak menampik kasus ini telah mengusik dirinya dan keluarga. Karena itu, dia siap buka-bukaan di sidang MKD menjelaskan posisinya.
"Saya juga enggak mau anak istri saya menjadi terbeban karena persoalan ini," ucapnya.
Kasus 'papa minta saham' ini jadi makin panas setelah MKD menggelar sidang Novanto secara tertutup. Banyak kalangan yang bereaksi keras dan menilai MKD 'masuk angin'. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan ikut bereaksi. Dia marah besar karena namanya dicatut untuk meminta saham dari PT Freeport Indonesia.
Sejak itu, desakan dari berbagai pihak agar Novanto mundur pun terus datang. Rekaman percakapan dinilai sudah cukup jadi bukti bahwa Novanto melanggar etik. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sudah lebih dulu menyarankan agar Novanto turun dari 'kursi empuk'-nya di DPR. JK sejak awal memang terus bersuara keras menyikapi kasus ini. (hri/imk)











































