Pasca Pemecatan 3 Praja, Kampus STPDN Tampak Sepi
Jumat, 04 Mar 2005 11:05 WIB
Sumedang - Sehari setelah upacara pemecatan 3 praja dan pemulangan 1.056 praja, situasi kampus STPDN di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, tampak lebih sepi dari biasanya. Sedangkan praja yang dipulangkan, mudik dengan ongkos sendiri.Menurut pantauan detikcom di Jatinangor, baru sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (4/3/2005) sejumlah praja melakukan kegiatan luar ruang. Mereka berolahraga sepakbola. Sedangkan ribuan praja lainnya, kata staf STPDN, belajar di kelas masing-masing."Jumlah praja yang dipulangkan kalau naik bus, ya bisa mencapai 50 bus," kata seorang petugas keamanan pada detikcom.Sementara Ketua STPDN I Nyoman Sumaryadi menegaskan bahwa situasi STPDN tetap lancar dan berjalan seperti biasa pasca pemberian sanksi pada ribuan siswanya. "Ya biasa saja, seperti hari-hari biasa. Tetap tenang. Kami ini kan PNS, bukan mahasiswa biasa. Jadi tidak ada gejolak berarti," kata Nyoman."Sekarang ini masih ada 3.300 praja, 800 pegawai, 140 dosen. Jadi tidak vakum," tandas Nyoman.Seperti diberitakan, sebanyak 3 praja STPDN dipecat karena terlibat dalam tawuran massal pada 1 Maret silam. Mereka adalah Simon Salossa (praja tingkat II) asal Papua, Hasyim Siregar (praja tingkat IV) asal Sumut dan Andi Arswandi (praja tingkat IV) asal Sulsel.Tawuran bermula ketika Hasyim memergoki Simon membawa miras. Keduanya sempat bersitegang karena Simon tak terima ditegur. Ketika makan siang di barak makan, pertengkaran keduanya berlanjut. Ribuan praja yang sedang makan siang pun terprovokasi dan terjadilah perang piring antarpraja.Dari situlah, 1.056 praja akhirnya dipulangkan hingga waktu yang tak jelas. Sedangkan 1.004 praja lainnya mendapat hukuman di dalam kampus. Upacara pemecatan dan pemulangan para praja dilakukan pada Kamis kemarin.Oleh staf STPDN, Simon dikenal sebagai praja bermasalah. Dia dikenal sebagai pemabuk, pemukul pengasuh, dan sering meninggalkan kampus tanpa izin.
(nrl/)











































