Kasus Novanto Bisa Pengaruhi Calon dari Golkar di Pilkada Serentak

Kasus Novanto Bisa Pengaruhi Calon dari Golkar di Pilkada Serentak

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 08 Des 2015 20:45 WIB
Kasus Novanto Bisa Pengaruhi Calon dari Golkar di Pilkada Serentak
Foto: Okta Wiguna
Jakarta - Proses persidangan kasus 'Papa Minta Saham' di Mahkamah Kehormatan Dewan dengan teradu Ketua DPR Setya Novanto banjir kritik. Publik meluapkan kemarahan salah satunya melalui media sosial. Kemarahan tak hanya ke MKD tapi juga tertuju pada Partai Golongan Karya yang membesarkan Novanto.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran, Muradi, mengatakan saat ini di media sosial muncul gerakan menolak calon dari Golkar di pilkada yang berlangsung besok.

"Langkah ini adalah bagian dari rangkaian kemarahan publik atas sikap sejumlah elite politik di partai beringin yang tidak kunjung bersikap," kata Muradi melalui keterangan tertulisnya, Selasa (8/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, saat ini masyarakat menilai bahwa Partai Golkar dan MKD setali tiga uang. Keduanya lamban dan mencoba mencari celah untuk keluar dari tekanan publik. MKD dan Golkar dianggap tidak berupaya melakukan langkah-langkah perbaikan untuk meredakan kemarahan publik.

"Kampanye menolak paslon yang diusung oleh Golkar pada Pilkada Serentak jangan dianggap remeh," kata Muradi.

Apalagi di daerah yang tingkat melek media dan internetnya tinggi. Di daerah tersebut hampir bisa dipastikan akan mengubah konstelasi dan pemenang ajang kontrak politik lima tahunan tersebut.

Politisi pengguna jejaring sosial, kata Muradi, cenderung akan menyasar dua strata pemilih, yakni pemilih pemula dan pemilih berbasis kelas menengah baik secara ekonomi maupun politik. Dua strata pemilih tersebut dikenal tingkat melek media dan informasinya begitu tinggi.

Dua strata pemilih tersebut jika tidak mendapatkan paslon alternatif di luar yang diusung Golkar kemungkinan besar akan golput atau tidak memilih dan datang ke TPS.

"Oleh sebab itu, penting bagi Partai Golkar untuk tidak menganggap remeh kampanye tersebut, karena bisa menjadi titik lemah bagi proses pemenangan," kata Muradi.

"Apalagi jika banyak partai lain yang mengusung paslon berbeda memanfaatkan celah ini untuk menggembosi paslon yang diusung Golkar dengan memanfaatkan kasus Novanto sebagai bagian dari pengalihan dukungan dari paslon yang diusung Golkar," tutup Muradi.

(erd/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads