"Banyak (teror), yang telepon juga banyak. Kalau ada telepon saya kasih ajudan. Wah pokoknya marah. Saya salahnya dimana? Ini kan tertutup, saya nggak ngomong apa-apa. Di dalam juga nggak terlalu banyak ngomong. Sidang tidak terbuka tapi langsung diblame. Kecuali saya ikut dari awal, tapi saya baru," ucap Dimyati di gedung DPR, Jakarta, Selasa (7/12/2015).
Selain itu Dimyati bahkan menyatakan bahwa koleganya, Zainut Tauhid, juga mendapat makian dari publik. Padahal Dimyati hanya ingin kasus ini cepat selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimyati mengutip kesaksian Novanto, bahwa alat bukti yang diajukan oleh Maroef Sjamsoeddin ilegal dan tidak diakui oleh Novanto. Begitu juga soal legal standing yang tetap berargumen menteri tidak punya legal standing.
"Kasih saya pendapat buktinya apa seseorang (Novanto) bersalah?" tanya Dimyati.
Anggota komisi I DPR itu ikut mengajukan pertanyaan kepada Novanto dalam rapat tertutup. Semua pertanyaan untuk mengkonfirmasi laporan Sudirman Said dan keterangan Maroef Sjamsoeddin dibantah oleh Novanto.
"Saya tanya Pak Novanto. Saudara teradu, saudara meminta saham kepada Freeport atau Maroef? Tidak. Saudara punya saham di Freeport tidak? Tidak. Terus saudara mengaku bersalah tidak? Tidak. Saudara langgar etik tidak? Tidak," terang Dimyati.
Dimyati kemudian juga menyebut sebetulnya juga ingin sidang dilakukan terbuka. Tetapi faktanya, sidang kemudian berlangsung secara tertutup.
"Intinya mungkin pemikiran mereka ingin segera putuskan dan ingin terbuka. Ya sama saya ingin terbuka juga, siapa yang nggak mau terbuka," imbuh mantan Bupati Pandeglang itu. (miq/bag)










































