Semrawut Metromini Dinilai Jadi Rapor Merah Ahok

Semrawut Metromini Dinilai Jadi Rapor Merah Ahok

Idham Kholid - detikNews
Selasa, 08 Des 2015 10:47 WIB
Semrawut Metromini Dinilai Jadi Rapor Merah Ahok
Ilustrasi (Foto: Basith Subastian/detikcom)
Jakarta - Kasus sopir Metromini ugal-ugalan hingga merenggut nyawa kembali terjadi. Keseriusan dan janji Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk memperbaiki secara total permasalahan Metromini di Ibu Kota ditagih .

"Ini jadi rapor merah Pak Ahok, dari zaman Pak Jokowi (menjabat Gubernur DKI) peremajaan tidak terealisiasi. Pak Ahok belum menganggap ini sebagai prioritas," kata pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwana Yoga saat dihubungi detikcom, Senin (7/12/2015) malam.

Tabrakan Metromini dan Commuter Line (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yoga menilai peremajaan Metromini belum terealisasi bukan karena masalah dana atau biaya, melainkan soal prioritas. Sebab, nyatanya Pemprov DKI dapat membangun jalan layang non tol seperti jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanah Abang.

"Tapi kenapa peremajaan Metromini tidak siap? Kita perlu menagih janji kembali untuk peremajaan bis Metromini, Kopaja dan lainnya itu. Jangan hanya diremajakan tapi manajemennya juga dileburkan," ujarnya.

Baca juga: Kapan Bus Reyot Metromini Berhenti 'Gentayangan'? Ahok: Tahun Depan

Menurut Yoga, ada tiga langkah yang harus dilakukan jika Pemprov DKI serius memutus mata rantai kecelakaan angkutan umum di Jakarta. Pertama, menyatukan seluruh manajemen transportasi yang terintegrasi se-Jabodetabek.

Semua jenis angkutan umum seperti Metromini, Kopaja dan lainnya dileburkan dalam satu payung yang dikelola langsung oleh Pemprov DKI. Kepemilikannya tidak lagi per kelompok atau individu.

Baca juga: Metromini, Problem Jakarta Sejak 1960-an

"Sekarang ini merupakan kesempatan bagi Pemprov DKI untuk mengambil alih transportasi itu daripada sibuk menggugat Metromini. Mulai tahun 2016 hanya ada satu, melebur semua. Tidak hanya Metromini, Koantas dan lainnya juga," paparnya.

Langkah kedua, lanjut Yoga, yaitu pengadaan armada yang layak jalan saja yang dapat beroperasi. Selain itu, kualitas sumber daya manusia seperti pengelola sampai sopir juga harus ditingkatkan.

Tabrakan Metromini dan Commuter Line (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)


Sedangkan langkah yang ketiga, kata Yoga, yakni memperbaiki semua rute hingga tidak ada lagi rute yang tumbang tindih.

"Tiga ini enggak mungkin dilakukan kalau masih sistem seperti sekarang. Jadi harus satu payung, sekarang kan per kelompok, individu, makanya akan susah mengaturnya," jelas Yoga.

"Kalau perbaikan sistem ini bisa berhasil dalam waktu dekat, maka akan dianggap warisan keberhasilan dari Pak Ahok. Akan menjadi sumbangan bagi warga, bahwa Pak Ahok lah yang paling berani. Sekarang momentumnya!" tandas Yoga. (idh/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads