"Sejak dari awal pun dia (Novanto) harus mundur. Bagaimana seorang petinggi negara dua kali disidang etik (pertemuan dengan Donald Trump dan Presdir PT Freeport Indonesia)?," kata pengamat politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Senin (7/12/2015) malam.
"Kalau dia (Novanto) merasa enggak ada persoalan, dua kali disidang di MKD, aku angkat tangan saja, nalar saya enggak sampai lagi menjangkau itu. Jadi perbincangan, bahan olok-olokan di dunia maya, bahkan orang enggak peduli sama pilkada," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, persoalan siapa yang menginisiasi pertemuan bukanlah perkara utama. Dengan adanya pertemuan maka jelas terlihat ada pelanggaran etik yang dilakukan Novanto.
"Apakah atas kehendak dia (Novanto) atau bukan, yang penting dia tak membantah pertemuan," ujarnya.
Baca: Ini Pembelaan Lengkap Setya Novanto di Depan MKD DPR
Menurut Ray, pelanggaran etika yang dilakukan Novanto sudah terlihat jelas. Salah satunya yaitu adanya pertemuan dengan petinggi PT Freeport.
"Kedua, di dalam pertemuan itu ada rangkaian pembicaraan yang dapat disimpulkan minta bagian dalam saham yang dikelola oleh Freeport," paparnya. (idh/dhn)










































