"Yang namanya politisi zaman sekarang berantem terus. Saya kalau ngomong sama Pak Kalla seru lah. Karena yang berantem kan sekarang tempatnya Pak Kalla," ungkap Megawati saat memberikan pidato dalam Simposium Nasional di Gedung Nusantara IV MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (7/12/2015).
Padahal seharusnya semua bergotong royong dalam pembangunan. Sudah seharusnya tidak ada lagi saling beda di dunia politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketum PDIP itu kemudian bercerita soal dirinya yang kerap di-bully. Menurut dia, bukan budaya Indonesia untuk saling bully.
"Bangsa kita ini kan enggak bisa gotong royong tapi selalu jatuhkan orang. Makanya saya bilang ke wartawan yang selalu bully saya, coba kamu yang di-bully, enak enggak? Bully itu kan budaya barat, bukan punya kita," ujar Megawati.
Menurut Ketum PDIP ini, baik pemerintah pusat sampai ke daerah seharusnya memiliki visi yang sama. Apalagi sekarang sudah akan berlangsung Pilkada serentak yang menjadikan masa bakti kepala daerah hampir seiring dengan Presiden.
Tetapi yang ada sekarang ini tiap kepala daerah punya visi masing-masing sehingga seringkali sulit terintegrasi dengan kebijakan pusat. Ditambah lagi ada persaingan partai politik dengan sesama kepala daerah.
"Misalkan ada tiga kabupaten, itu yang dua misal dari partai saya, terus yang satu bukan walaupun berdempetan. Kalau di pusat mau bangun infrastruktur, lalu yang dua sudah setuju untuk dibikin jalan, eh yang satu malah mau bikin mal. Kan tidak sinkron jadinya," ujar dia. (bpn/erd)










































