Organda: Pemilik Metromini Nggak Peduli Keselamatan Penumpang

ADVERTISEMENT

Organda: Pemilik Metromini Nggak Peduli Keselamatan Penumpang

Ferdinan - detikNews
Senin, 07 Des 2015 09:44 WIB
Ilustrasi/Metromini dan Kopaja di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2015).Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan menyebut pemilik Metromini masih menolak terintegrasi dengan bus TransJakarta. Padahal sistem ini diyakini akan membuat armada dan pelayanan Metromini berubah menjadi baik.

"Kopaja AC sudah berubah sistemnya, tata kelola manajemen operasionalnya tidak dilakukan perorangan lagi. Tapi Metromini belum mau. Sistem pengelolaan perorangan mulai kacau. Pemilik ngga peduli sama keselamatan penumpang, dia serahkan ke driver dan di lapangan banyak sopir tembak," kata Shafruhan Sinungan saat dihubungi, Minggu (6/12/2015) malam.

Menurut Shafruhan, saat ini hampir 90 persen dari total 1.200 unit Metromini yang beroperasi, tidak laik jalan. Untuk membenahinya tak cuma soal revitalisasi armada tapi juga sistem pengelolaan.

"Sistem itu juga termasuk perekrutan pengemudi, harus memenuhi kualifikasi," sebutnya.

Organda sambungnya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan DKI termasuk Polda terkait kebutuhan pembentukan institusi khusus. Institusi ini yang akan melatih pengemudi angkutan umum hingga mengeluarkan sertifikasi.

"Supaya kalau orang punya SIM umum, tapi kalau belum dapat sertifikasi maka dia belum bisa kendarai angkutan umum," ujarnya.

Pemilik Metromini lanjut Shafruhan belum punya pola pikir profesional. Padahal bisnis angkutan ditegaskannya sangat erat dengan bisnis pelayanan.

"Kalau pelayanan kita nggak baik ditinggalin penumpang. Kalau ditinggalin penumpang bisnisnya hancur, kendaraannya bobrok, naik kendaraannya bau apek nggak nyaman," katanya.

UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah mewajibkan agar angkutan umum berbentuk PT atau Koperasi.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah secara terpisah mengatakan, menghapus Metromini tak bisa dilakukan secara langsung. Dishub tengah berupaya memperbaiki kondisi Metromini dengan terintegrasi bus TransJakarta.

"Yang dihapus itu ada mekanismenya, yang paling penting bagaimana kita mempersiapkan Rp/km. Kalau seumpama itu sudah siap, mungkin (Metromini) itu bisa kita hapus semuanya. Tapi kalau kita belum siap, belum bisa menghapus karena kaitannya memang terus terang saja Metromini juga sendiri masih dibutuhkan masyarakat," ujar Andri Yansyah.

Andri Yansyah menyebut sudah ada 1.600 izin trayek atau sekitar 60 persen dari total 3 ribu izin trayek yang sudah dicabut.

"Jadi sekarang yang lama-lama akan kita sikat, akan kita tertibkan dan kita tidak akan nambah lagi," tegasnya.

Kecelakaan Metromini dengan Commuter Line menyebabkan 18 orang meninggal. Dua korban belum teridentifikasi. Kecelakaan terjadi karena sopir Metromini B80 jurusan Kalideres-Grogol menerobos perlintasan kereta hingga akhirnya tertabrak commuter line yang sedang melintas. (fdn/fdn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT