Ini Daftar Korban Metromini Maut di RS Atma Jaya dan RSUD Tarakan

Ini Daftar Korban Metromini Maut di RS Atma Jaya dan RSUD Tarakan

Ahmad Masaul Khoiri, Jabbar Ramdhani - detikNews
Minggu, 06 Des 2015 16:31 WIB
Ini Daftar Korban Metromini Maut di RS Atma Jaya dan RSUD Tarakan
Foto: Ahmad Masaul Khoiri
Jakarta - Sebanyak lima korban kecelakaan Metromini yang tertabrak kereta commuterline di Angke, Jakarta Barat, dirawat di Rumah Sakit Atma Jaya pada Minggu sore (6/12/2015). Dokter UGD RS Atma Jaya, dr. Anton Abadi, mengatakan dari lima pasien yang diterima pihaknya, dua orang meninggal dan tiga masih dalam perawatan.

Satu korban meninggal dalam perjalanan menuju RS Atma Jaya, sedangkan satu korban tewas lainnya diakibatkan pendarahan dalam.Β  Kedua korban tewas ini akan dipindahkan ke RS Cipto Mangunkusumo.

Dari keterangan RS Atma Jaya, korban meninggal adalah Elimah, 19 tahun, asal Dusun Bokol Kulon, Nusawung, Cilacap, Jawa Tengah yang menetap di Kalideres, Jakarta Barat. Korban tewas lainnya adalah Wahyu, 40 tahun, kelahiran Kuningan yang kini jadi warga Kampung Duri Rt 005/014 Cengkareng, Jakarta Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun korban yang saat ini masih dirawat adalah:

1. Marfudin (65 tahun) warga Kelurahan Bojong Kerta RT 001/008
2. Sunarti (28 tahun) warga Tanah Sereal XIII RT 003/012, Tambora, Jakbar.
3. Slamet Muzaki (23 tahun) warga Dukuh Benda RT 001/002, Tegal, Jawa Tengah.

Β "Dari yang dirawat, satu perlu ruang ICU tapi ruangan di kami penuh," kata Anton. "Kami masih mencari rumah sakit yang bisa menerima tapi belum dapat."

Sementara itu RSUD Tarakan hanya menerima satu korban bernama Hendi, warga RT 014/006 Kelurahan Krendang, Tambora, Jakarta Barat. "Dari pertama (datang) sadar, cuma keadaannya masih lemah," kata dr. Nania, dokter jaga IGD RSUD Tarakan.

Kepada dokter, Hendi bercerita ia terlempar keluar saat Metromini tertabrak kereta. Ia menderita patah tulang lengan kanan serta menderita banyak luka di pelipis dan kaki kiris serta lecet di sekitar dada. "Harus dioperasi, tapi keluarganya tidak mau," kata dokter Nania. (okt/okt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads