Ketika DPR Kalah dari KPK di Mata Bocah SD

Ketika DPR Kalah dari KPK di Mata Bocah SD

Baban Gandapurnama - detikNews
Sabtu, 05 Des 2015 16:21 WIB
Ketika DPR Kalah dari KPK di Mata Bocah SD
Foto: baban/detikcom
Jakarta - Tiga bocah lelaki duduk di lantai keramik depan ruang kelas. Mimiknya serius. Mereka sibuk menggoreskan pensil untuk menjawab pertanyaan teks dan gambar dalam lembar buku berjudul 'BE A HERO!'.

Ialah Fakhri Atalah (9), Givan Nur Rizqi (9) dan Rayya Arkana Pratama (9). Semuanya siswa kelas empat SD Isola Bandung yang berpartisipasi mengikuti kegiatan Xatrya di SD Laboratorium Percontohan UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Sabtu (5/12/2015).

Xatrya merupakan workshop bernuansa petualangan dan menggunakan media animasi dalam kegiatannya. Acara diikuti 100 anak ini digelar komunitas Simpul Institute berkaitan rangkaian Festival Antikorupsi 2015 memperingati Hari Antikorupsi Internasional di Kota Bandung.

Para bocah kelas 4 hingga 6 asal SD Laboratorium Percontohan UPI, SD Isola dan SD Gegerkalong turut andil mengusung semangat antikorupsi. Harapannya kelak generasi bangsa ini menjadi agen perubahan di Indonesia berbenteng integritas diri yang mumpuni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga anak usia dini tadi, Fakhri, Givan dan Rayya, memang belum begitu paham definisi korupsi. Namun begitu, ternyata mereka akrab dengan lembaga bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bermarkas di Jakarta.

Ketimbang akronim seperti DPR (Dewan Perwakilan Rakyat, PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dan MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan), kepanjangan KPK rupanya lebih melekat di benak para bocah tersebut.

"DPR apaan ya kepanjangannya," ucap Givan yang melirik dua sahabatnya tersebut.

"Lupa lagi," kata Fakhri dan Rayya.

"Kalau KPK kepanjangannya apa?" tanya seorang wartawan.

"Aku tahu!" teriak ketiganya bereaksi semangat. "KPK itu Komisi Pemberantasan Korupsi," ucap para bocah tersebut kompak bersuara.

Mereka kenal lembaga antirasuah tersebut lantaran sering melihat tayangan berita di layar televisi. Orang tuanya masing-masing yang juga menjelaskan soal arti KPK.

"KPK itu kan yang jago nangkap orang-orang korupsi," kata Rayya.

Tingkah bocah lugu ini jelas punya makna tersendiri. Kegiatan Xatrya yang dibesut Simpul Institute diharapkan dapat menggulirkan sepenggal solusi bagi permasalahan peningkatan mental anak bangsa.

Anak-anak digiring guna berperan serta mencegah perilaku korupsi berbekal 9+1 nilai baik bagi integritas diri. Jemari Fakhri, Givan dan Rayya bolak balik membuka lembaran buku 'BE A HERO!' setebal 20 halaman. Isinya antara lain teka teki silang dan permainan acak kata.

Ketiganya lalu menyimak halaman tiga yang berisi '9+1 Integritas' yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, sabar dan santun. "Kalau aku enggak hafal semuanya. Cuma beberapa, disiplin, berani, mandiri, adil dan jujur," ujar Fakhri yang bercita-cita menjadi pilot.

Aryanti (39), wali asuh dalam acara tersebut, mengatakan pesan-pesan antikorupsi kepada anak usia dini dapat dimulai dari persoalan sederhana. "Terpenting itu anak-anak diperkenalkan mengenai 9+1 integritas. Memang belum tentu anak-anak paham soal arti korupsi, tapi kan bisa ditekankan pengertiannya saat berada di rumah, sekolah dan tempat pengajian. Maka itu, orang tua serta guru memiliki peranan membagi pengetahuannya," ujar Aryanti.

Acara Xatrya ini, sambung dia, dilakukan anak-anak dengan suasana menyenangkan. Cara pendekatannya melalui metodologi design action.

Peserta turun langsung mencari tahu dan memecahkan masalah di sekitarnya. Anak-anak dibawa ke luar sekolah, lalu berinteraksi dengan warga.

"Misalnya tadi ada anak melihat kendaraan menerobos rambu verboden, mereka mendokumentasikan dan wawancara orang sekitar. Terus anak-anak mempermasalahkan keberadaan sampah dan parit kotor. Nah, dari situ kan muncul kalau anak-anak harus menanamkan perilaku peduli. Ya, mengasah kepekaan mereka," tutur Aryanti.

Setelah menemukan masalah-masalah, Aryanti menjelaskan, para peserta berdiskusi secara kelompok untuk mencari solusi. "Tujuan kegiatan ini paling tidak nilai-nilai integritas dapat meresep dalam benak anak-anak. Jadi ada jejak. Sehingga kelak, keseharian mereka bisa berperilaku baik serta menghindari hal-hal yang dilarang," katanya.

Wanita berkerudung ini menambahkan, sangat penting memperkenalkan anak-anak tidak bertindak curang, baik di lingkungan sekolah ataupun rumah. Edukasi tersebut, kata Aryanti, diharapkan jurus jitu memberangus bibit-bibit koruptor. "Sifat anak itu imitasi, jadi lingkungan sekitarnya harus memberikan contoh baik," ujar Aryanti. (bbn/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads