Sebagai negara dengan wilayah demografis yang luas serta penduduk 250 juta, program bela negara dalam jangka panjang dinilainya mampu mendukung berbagai aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
"Bela negara itu dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa. Upaya membangun sikap, semangat ini paling efektif yaitu implementasinya lewat pembangunan karakter yang dimulai sejak usia dini. Dari kurikulum sekolah dasar," tutur Letjen (Purn) Kiki dalam Seminar Bela Negara di Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (5/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang disinggung Kiki mestinya ada penguatan dalam kurilulum mata pelajaran Sejarah dan pelajaran Ilmu Bumi Geografi.
"Ini harus dijadikan pelajaran pokok karena memiliki index nilai tertinggi dalam kurikulum sekolah, terutama untuk tingkat mulai SD, SMP, dan SMA. Kalau dari usia dini tak paham sejarah dan geografi, ya sulit. Misalnya sejarah itu identik dengan pengetahuan masa lalu, perjuangan pahlawan," sebut eks Wakil KSAD itu.
Sementara, mantan Menteri Pertahanan Mahfud MD menyebut program bela negara harus perkuat ideologi setiap warga negara. Bukannya justru ideologi yang salah kaprah. Program bela negara yang efektif harus terkonsep dengan target jangka panjang.
Pembangunan ideologi bela negara mesti dibangun dari sektor pendidikan.
"Harus terkonsep dengan hasil jangka panjang. Karena ini tergantung lagi bagaimana pemahaman ke orang banyak. Bela negara itu bukan latihan tempur. Kalau orang nilai itu ya keliru. Bela negara itu bukan pertempuran. Tak perlu jadi tentara untuk bela negara," tutur Mahfud. (hat/aan)











































