Novanto Lebih Elegen Mundur dari DPR Daripada Diberi Sanksi MKD

Novanto Lebih Elegen Mundur dari DPR Daripada Diberi Sanksi MKD

Mulya Nur Bilkis - detikNews
Jumat, 04 Des 2015 13:27 WIB
Novanto Lebih Elegen Mundur dari DPR Daripada Diberi Sanksi MKD
Ilustrasi: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Mahkamah Kehormatan Dewan rencananya pada Senin, 7 Desember 2015 nanti akan memanggil Ketua DPR Setya Novanto untuk dimintai keterangan sebagai terlapor dugaan pelanggaran kode etik. Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas menyarankan Novanto datang memberi keterangan ke MKD.

Melihat bahwa dugaan pelanggaran kode etik begitu kuat, Erry menyarankan agar setelah datang ke MKD Novanto mengajukan pengunduran diri dari jabatannya selaku Ketua DPR.Β  Pengunduran diri ini akan terlihat lebih terhormat daripada diberi sanksi oleh MKD

"Lebih negarawan kalau (Novanto) datang sidang. Datang dan setelah itu mengundurkan diri. Itu lebih elegan," kata Erry Riyana Hardjapamekas usai diskusi di Restoran Pulau Dua, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (4/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan kehadiran Novanto dalam sidang MKD sangat penting untuk mengkonfirmasi rekaman pembicaraannya dan keterangan saksi yang sudah hadir lebih dulu.

"Saya pikir mundur paling elegan. Toh dia sudah sampai puncak. Mundur dari jabatan ketua ya lebih bagus karena melanggar etika," sambungnya.

Baca juga: Ini Transkrip Lengkap Rekaman Setya Novanto

Dari rekaman yang diputar saat sidang MKD, Erry menilai sudah sangat jelas ada pelanggaran etika yang dilakukan Novanto. Tindakan Novanto yang notabene seorang Ketua DPR bersama pengusaha Reza Chalid yang mengajak bertemu secara khusus Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dan kemudian meminta 'jatah' saham jelas sudah salah.

"Sebagai ketua DPR melobi kiri kanan, ya. Itu oke. Tapi ketemu Presdir dan bicara saham, itu salah," tegasnya.

(mnb/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads