15 WNA Tiongkok yang Ditangkap di Sleman Jaringan Penipu Online

15 WNA Tiongkok yang Ditangkap di Sleman Jaringan Penipu Online

Sukma Indah Permana - detikNews
Jumat, 04 Des 2015 12:57 WIB
15 WNA Tiongkok yang Ditangkap di Sleman Jaringan Penipu Online
Foto: Sukma Indah Permana
Sleman - Polisi mengamankan 15 orang WNA Tiongkok di sebuah rumah mewah di Sleman. Diduga kelompok ini merupakan sindikat internasional penipuan online.

"Ada dugaan (mereka) ada kaitannya dengan yang terjadi di beberapa kota terkait penipuan online internasional," ujar Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain.

Hal ini disampaikan Faried kepada wartawan di kantornya, Jalan Magelang KM 12, Sleman, Jumat (4/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faried menilai ada kesamaan kasus ini dengan yang pernah ditangani di Polda Metro Jaya. Namun pihaknya masih akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Untuk itu pihak Polres Sleman berkoordinasi dengan pihak imigrasi dan Kepolisian Tiongkok untuk mengungkap kasus ini. "Data-data ini akan kami kirim ke Kepolisian Taiwan," imbuhnya.

Hal ini mengingat dari 15 tersangka ditemukan 10 paspor Taiwan dengan visa wisata. Sedangkan 5 orang lainnya belum didapati identitasnya.

Identitas 10 orang tersebut terdiri dari 9 laki-laki yakni Lai-Kuan Ming (26), Cheng, Jheng-Yi (22), Hung, Wei-Cheng (25), Chen, Jhin-Peng (31), Dong, Jhen-Yu (23), Chen-Hui (25), Chen, Jian-Syun (21), Cai, Yi-Lin (21), Liou, Jian-Sheng (25) dan seorang perempuan Yang, Ya-Ru (20).

Berbagai barang bukti diamankan dari rumah tersebut termasuk 50.000 Dolar Hong Kong.

"Ada uang yang disita terdiri dari 100 lembar uang pecahan 500 Dolar Hong Kong, 30 lembar pecahan 10 Yuan, 5 lembar pecahan 100 Yuan, 1 lembar pecahan 500 Yuan, dan 30 lembar pecahan 1.000 Yuan," urai Faried.

Selain itu terdapat 4 HP Nokia 106, 5 HP Samsung, 10 sim card operator Tiongkok, 13 HT, 2 CCTV, 2 laptop, sebuah printer, 37 router hotspot, 10 keyboard komputer, 2 alat perekam suara, dan 35 unit wifi line.

Polisi masih mengalami kesulitan dalam pemeriksaan tersangka karena terkendala bahasa. Tak ada satupun dari mereka yang bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia.

"Terkendala komunikasi, karena mereka tidak bisa bahasa Inggris atau Indonesia sehingga kami akan cari ahli bahasa," tuturnya.

Sehingga sampai saat ini belum ada kesimpulan yang bisa ditarik dari kasus ini. Namun diduga, korban dari aksi penipuan ini adalah warga asing. "Diduga korbannya orang-orang asing juga," tuturnya. (sip/mad)


Berita Terkait