Penjelasan Din Syamsuddin Soal Batalnya Pidato Jokowi di Paris

Penjelasan Din Syamsuddin Soal Batalnya Pidato Jokowi di Paris

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Jumat, 04 Des 2015 05:26 WIB
Penjelasan Din Syamsuddin Soal Batalnya Pidato Jokowi di Paris
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Presiden Joko Widodo batal berpidato di Forum Mission Inovation COP21, Paris, Prancis. Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menyebut bahwa batalnya Jokowi berpidato karena agenda acara yang tidak beraturan dan sangat padat.

"Peristiwa tersebut terjadi pada salah satu even 30/11 yang bukan even utama. Presiden RI sudah menyampaikan pidato komitmen terhadap perubahan iklim beberapa saat sebelumnya di Leaders Meeting untuk menegaskan komitmen Indonesia tentang solusi terhadap masalah perubahan iklim. Dan setelah itu sempat singgah di Pavilion Indonesia di hall lain ketika sesi para tokoh agama dari berbagai negara (termasuk saya sendiri sebagai salah seorang pembicara) sedang berlangsung," kata Din Syamsudin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/12/2015).

Din menjelaskan, setelah mengunjungi paviliun Indonesia, Presiden Jokowi lalu menuju ke hall lain. Namun, saat Jokowi tiba para kepala negara sedang melakukan sesi foto-foto. Jokowi pun ikut berbaur bersama para kepala negara lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah itu Presiden Jokowi menuju hall lain untuk acara lain, dan rupanya terlambat tiba dan juga Presiden Obama, sementara sejumlah kepala negara lain sedang berfoto di panggung. Setelah ikut berfoto juga, Presiden Prancis Hollande ke luar ruangan, kemudian juga diikuti oleh Presiden Obama dan presiden-presiden lain yang sudah dijemput oleh para ajudan masing-masing. Hal ini disebabkan para presiden/ perdana menteri terlibat dalam agenda yang banyak di tempat-tempat berbeda di arena COP-21 yang luas dan masing-masing negara menyelenggarakan pavilion dengan aneka eventnya masing-masing," jelas Din.

"Pada event terakhir tersebut rupanya ada beberapa kepala negara yang mendapat kehormatan berbicara kepada audien dan para kepala negara yang lain tidak harus mengikutinya, apalagi sudah ada agenda lain. Presiden Jokowi rupanya ikut juga pergi juga sehingga tidak jadi berpidato lagi," imbuhnya.

Din mengimbau agar hal ini tidak dibesar-besarkan. Menurutnya, hal seperti yang dialami Presiden Jokowi itu adalah sesuatu yang lumrah mengingat begitu banyaknya agenda yang harus diikuti.

"Pada hemat saya, peristiwa tersbut adalah lumrah dan biasa terjadi pada event yang besar dengan agenda yang banyak. Tentu tidak mungkin setiap kepala negara harus mengikuti seluruhnya, apalagi masing-masing juga terikat acara di berbagai hall/ruangan lain, termasuk yang memanfaatkan kesempatan untuk konpers," tegas Din.

(Hbb/Hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads