Anggota MKD DPR dari Golkar Adies Kadir terus mempertanyakan bahwa di dalam rekaman pembicaraan tidak ada pernyataan Novanto meminta saham.
"Apakah Saudara saksi bisa menunjukkan di mana di dalam rekaman tersebut ada pernyataan Saudara Setya Novanto tentang saham sebesar 20% tersebut?" tanya Adies Kadir dalam sidang MKD di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/12/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maroef pun kemmudian memaparkan jabawan dari transkrip rekaman keduanya sebagai berikut:
MR: Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut.
SN: Iya. Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di San Diego dengan Jim Bob empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia memang di sini 10 persen. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini. Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu lhp hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu. Strateginya gitu lho.. Hahahaa
Namun Adies membangun opininya sendiri. "Kalau saya membaca ini Pak Luhut harus membagi, ambil 11 persen, kasihlah Pak JK 9 persen ini kalau benar isi transkrip ini saya belum menemukan pernyataan saudara SN yang meminta saham 20%," katanya. (van/nrl)











































