"Rapat saya tutup," ucap ketua MKD Surahman Hidayat sambil mengetok palu di ruang rapat MKD gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/12/2015).
Sempat terjadi adu mulut antar anggota usai mendengarkan rekaman percakapan sekitar 1 jam setengah itu. Yaitu anggota Hanura Sarifuddin Sudding yang menilai tidak ada pernyataan Novanto meminta saham ke PT Freeport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sidang ini untuk mendengarkan keterangan pengadu termasuk keterangan rekaman. Jadi kalau ada pertanyaan ke pengadu, jangan debat sendiri," ucap anggota asal PDIP M Prakosa menengahi.
Akhirnya pimpinan sidang Surahman menghentikan perdebatan dan mempersilakan Sudirman menjawab.
"Kalau diikuti dengan baik pelan-pelan tanpa pretensi, mudah-mudahan cukup istirahat nanti malam. Besok subuh akan jelas menangkap apa yang saya tulis," ucap Sudirman.
Dia membacakan percakapan yang disebut Novanto meminta saham yaitu pada lembar keenam. Di situ jelas didengar ada permintaan saham untuk proyek listri di Papua ke Freeport.
"Kemudian halaman 9 jelas sekali ada sahut menyahut antara SN dengan MR mengenai saham. Betul dicampur konteksnya dengan divestasi, tapi yang bisa jelaskan nuansa pembicaraan Pak Ma'roef," paparnya.
Sudirman lalu menyampaikan terimakasihnya kepada sidang MKD yang telah digelar terbuka dan memperdengarkan rekaman. Namun dia terusik karena seolah diperlakukan seperti orang yang bersalah. Padahal memberi laporan.
"Harusnya untuk memuliakan dewan, orang yang mengadu dilindungi bukan diperlakukan seperi orang bersalah," tutup menteri berkacamata itu.
Rapat sejak pukul 13.15 WIB yang penuh perdebatan itu pun akhir ditutup pukul 21.30 WIB. (bal/tor)











































