Akbar dan Junimart: Ada Soal Saham di Transkrip Novanto Soal Freeport

Akbar dan Junimart: Ada Soal Saham di Transkrip Novanto Soal Freeport

Indah Mutiara Kami - detikNews
Rabu, 02 Des 2015 21:20 WIB
Akbar dan Junimart: Ada Soal Saham di Transkrip Novanto Soal Freeport
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Setelah rekaman lengkap pembicaraan Ketua DPR Setya Novanto soal Freeport diputar sejumlah anggota MKD sempat mempertanyakan keberadaan pembicaraan soal saham. Dua anggota MKD yakni Akbar Faizal dan Junimart Girsang termasuk yang jeli melihat persoalan ini.

"Kalau mau dilihat silakan ada di halaman tiga," kata Wakil Ketua MKD DPR Junimart Girsang dalam sidang MKD DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/12/2015), merujuk pembicaraan SN tentang saham Freeport sebagai berikut:

SN: Saya itu pak, sudah ketemu presiden, waktu sampai ada 5 pimpinan negara lainnya. Ada ketua MA, Ketua KY, Ketua MK. Saya bilang Pak, bapak ke Papua. Iya kata presiden. Padahal di sana gak ada yang jemput. DPRDnya, bupatinya, gubernurnya. Kesel juga. Soal PSSI macam-macam. Saya bilang bikin itu saja istana di papua. Setuju pak, kata presiden. Masak ada Tampak Siring, Bogor. Masak di sana tidak ada. Saya sudah lihat di sana ada tanah kosong, depannya laut. Jadi secara politis ke depan pasti ke sana. Semua manggut-manggut. Lagi seneng dia. "Freeport itu saya sudah ketemu Jim Bob, Dirutnya, saya minta dipertimbangkan. Waktu itu dengan menteri itu, soal perpanjangan itu kan DPR minta untuk duduk. Sedangkan sekarang kan ada tiga hal, kemarin menteri ESDM menemui saya di Surabaya, khusus bicara ini. Beliau bicara tiga hal. Satu, penerimaan minta ditingkatkan. Kedua adalah privatisasi, permintaan itu 30 Juta untuk 51%. Mana mungkin saya bilang gitu. Ketiga adalah pembangunan smelter. "Oh oke Pak Ketua. Kalau berhenti itu soal penerimaan saya gak sependapat Pak Ketua. Karena kita itu paling hanya nerima 7-8 triliunlah. Tapi kita keluarkan dananya untuk di Papua, Otsus itu, kita 35 T. Ndak imbang". Tapi kan itu udah dibantu CSR. "Iya tapi tidak cukup Pak ketua". Kita besar sekali

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pandangan senada juga disampaikan Akbar Faizal. Anggota MKD dari NasDem itu menjelaskan dengan gamblang pembicaraan MR dengan SN terkait saham Freeport di halaman 9 transkrip yang diserahkan Sudirman Said sebagai berikut:

MR: Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut

SN: Iya. Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di San Diago, dengan Jim Bob, empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia memang di sini 10 %. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini. Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu lhp hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu. Strateginya gitu lho.. Hahahaa

Akbar Faizal kemudian mempertanyakan, "Apakah etis?" kata Akbar.

Sudirman Said kemudian menjawab pertanyaan anggota MKD bahwa transkrip tersebut memuat pembicaraan soal saham. "Di halaman 9 ada pembicaraan sahut menyahut antara MR dan SN terkait saham," kata Sudirman.

(van/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads