Perlu Sosialisasi, Pekerja Transportasi Rawan Tertular AIDS

Perlu Sosialisasi, Pekerja Transportasi Rawan Tertular AIDS

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 02 Des 2015 00:15 WIB
Perlu Sosialisasi, Pekerja Transportasi Rawan Tertular AIDS
Ilustrasi Hari AIDS Sedunia (Foto: thinkstock)
Semarang - Kasus AIDS masih tercatat terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jawa Tengah mencatat sejumlah penderita AIDS dari berbagai profesi dan usia sejak tahun 1993 hingga 2015.

Dari data yang diperoleh detikcom dari BP3AKB Jawa Tengah, secara kumulatif sejak tahun 1993 hingga bulan Maret 2015 tercatat ada 5.157 orang di Jawa Tengah yang terkena AIDS. Jumlah tertinggi yaitu tahun 2014 lalu yang mencapai 1.081 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari beberapa profesi antara lain buruh, pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga, sopir, bahkan mahasiswa. Anak-anak juga tercatat terjangkit dengan jumlah yang cukup banyak yaitu 24 anak pada tahun 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu yang tercatat dan mau melapor. Yang belum tercatat mungkin masih ada," kata Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BP3AKB Jawa Tengah, Rani Rataningdyah kepada detikcom, Selasa (1/12/2015).

Berbagai pihak termasuk BP3AKB terus melakukan sosialisasi pencegahan dan penanganan AIDS termasuk kepada profesi-profesi rawan penyebaran AIDS. Untuk hari AIDS sedunia tahun ini profesi yang disasar sosialisasi berfokus pada pekerja transportasi.

Rani mengatakan tahun ini untuk peringatan hari AIDS sekaligus sosialisasi, leading sector berada di pihak Dishubkominfo. Hal itu dilakukan karena pekerja transportasi misalnya sopir rawan tertular atau  menularkan AIDS. Tercatat tahun 2014 lalu ada 27 orang berprofesi sopir yang mau melapor menderita AIDS.

"Pekerja transportasi itu rawan, rawan tertular dan penularan. Orang Jawa ada istilah 'Supir ngaso, mampir' (sopir istirahat, 'mampir'), meski tidak semua.  Penularannya bisa ke istri-istri mereka," terang Rani.

Kegiatan yang dilakukan untuk sosialisasi kepada pekerja transportasi antara lain memasang spanduk peringatan di pelabuhan yang notabene banyak sopir truk di sana. Selain itu juga menyiapkan tempat tes yang bisa dimanfaatkan para sopir.

"Di sana juga ada tempat pemeriksaan AIDS, jika mau," katanya.

Sosialisasi juga terus dilakukan terhadap masyarakat untuk tidak mendiskriminasi penderita AIDS lewat pengetahuan cara menularkan. Banyak masyarakat yang masih salah kaprah sehingga perlu diberitahu jika AIDS menular lewat hubungan intim, darah, atau jarum suntik yang bergantian.

"Pegangan itu tidak apa-apa, air ludah juga tidak menularkan. Jadi jauhi penyakitnya, jangan orangnya,"

Selain itu, sebut Rani, pihaknya bekerjasama dengan dinas terkait  juga melakukan berbagai kegiatan dengan  kelompok dukungan sebaya untuk memberikan support kepada penderita AIDS.

"Kami memang khusus menangani perempuan. Tujuannya agar tidak minder dan mau bermasyarakat. Dampaknya bagus, ada yang tadinya tidak berani keluar rumah sekarang berani," pungkasnya.

Sementara itu, masih dari data tahun 1993 sampai 2015, berdasarkan kelompok umur jika dihitung komulatif didapati usia 25-34 paling banyak terjangkit AIDS. Ironisnya, anak usia 0-4 tahun juga ada yang mengidap AIDS karena orang tuanya yaitu dengan jumlah 176 anak hingga Maret 2015 lalu. (alg/dhn)


Berita Terkait