Pemicu jatuhnya pesawat buatan Airbus dari Prancis itu adalah adanya retakan pada salah satu komponen yang merupakan bagian dari sistem kendali, yakni RTLU (rudder travel limiter unit). Ada 3 gangguan yang terjadi dalam penerbangan rute Surabaya-Singapura itu.
"Awak pesawat sudah melaksanakan sesuai prosedur pada 3 gangguan pertama. Setelah gangguan keempat, flight data recorder (FDR) mencatat indikasi yang berbeda yakni di mana ini serupa dengan kondisi saat CB (circuit breaker) di-reset sehingga berakibat terjadinya pemutusan arus listrik pada FAC," ungkap Plt Subkomite Kecelakaan Penerbangan Kapten Nurcahyo Utomo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KNKT pun menduga reset ini dilakukan oleh pilot karena sudah 3 kali mencoba sesuai prosedur namun gangguan masih tetap ada sehingga memunculkan peringatan berulang-ulang. Reset CB pada FAC juga pernah dilakukan sebelumnya ketika pesawat yang sama mengalami kendala serupa.
"25 Desember di mana pesawat ini akan terbang dari Surabaya ke Kuala Lumpur. Kapten pilotnya sama. Saat itu pesawat mengalami gangguan RTLU kemudian engineer di darat mencabut FAC 1 dan 2," kata Cahyo.
Meski KNKT tak dapat menyimpulkan pilot mencabut CB pada FAC sebelum jatuh di Selat Karimata, namun dari data FDR memang reset dilakukan. Ada dugaan bahwa pilot melakukan prosedur yang sama dengan peristiwa pada 25 Desember 2014 itu, 3 hari sebelum insiden terjadi.
"Mungkin karena sudah 3 kali dilakukan prosedur tapi tetap masih ada kendala. Bisa juga pilot tidak tahu ada komponen yang tidak boleh dicabut ketika berada di udara," tutur Cahyo.
"Kemungkinan pilot merasa terganggu dengan lampu peringatan yang nyala-nyala terus. Sehingga mereka berkeinginan untuk masalah itu teratasi," imbuhnya.
Akibat putusnya aliran listrik, rangkaian peristiwa terjadi sebelum akhirnya pesawat jatuh. Yakni pesawat miring hingga 54 derajat, lalu naik ke atas hingga ketinggian 38 ribu kaki dari permukaan laut, lalu kembali miring dengan sudut kemiringan hingga 104 derajat, hingga akhirnya stall (jatuh).
Dari rangkaian peristiwa itu, diketahui bahwa pesawat mengalami kondisi yang dinamakan upset condition. Ini adalah situasi di mana pilot sudah tidak bisa lagi mengendalikan pesawat dalam kondisi yang tidak wajar.
"Dan selanjutnya pengendalian dari pilot, dan tindakan lainnya menyebabkan pesawat masuk suatu kondisi yang disebut upset dan stall yang berkepanjangan dan sudah di luar kemampuan dari pilot untuk recover," ucap Cahyo.
KNKT lantas merekomendasikan agar Airbus membuat aturan terkait hal tersebut. Selain itu KNKT juga meminta supaya ada pelatihan kepada para pilot ketika menangani situasi upset condition.
"Kepada Airbus, kita minta agar mereka membuat suatu metode mencegah pilot berimprovisasi di luar prosedur. Semua pilot Airbus di seluruh dunia harus diajari upset recovery traning. Artinya pesawat yang dalam kondisi posisi atau sikap yang tidak wajar bisa dikembalikan (stabil) oleh pilotnya," ujar mantan penerbang Boeing itu.
Sementara itu menurut Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, sebenarnya gangguan RTLU bukan berhubungan dengan soal keamanan pesawat. Namun karena FAC di-reset, komponen lain yang ada dipesawat juga ikut terkena imbasnya.
"RTLU bukan keamanan, tidak signifikan. Selama ini bisa diperbaiki maka baik-baik saja. Tapi setelah gangguan keempat, penanganan tidak sesuai dengan prosedur. Ini human factor, karena pilot melihat engineer reset FAC di darat," papar Soerjanto dalam kesempatan yang sama.
Akibat FAC di-reset, auto pilot dan auto-thrust juga ikut mati. Auto-thrust disebut Soerjanto merupakan komponen yang mengatur daya angkat pesawat. Akibat komponen itu tidak aktif, pesawat diterbangkan secara manual.
"Komputer sudah tidak bisa, semua proteksi hilang, pesawat kembali pada basicnya. Pesawat menukik ke bawah, karena tidak ada daya angkat, tidak bisa ditukikkan ke bawah. Ini soal upset recovery training," terangnya.
"Ini lalu ada dirasakan seolah-olah seperti ada cuaca buruk. Pesawat bergetar ini karena pesawat stall, kehilangan daya angkat," pungkas Soerjanto. (elz/dhn)











































