KSAU: Kerjasama dengan PT DI untuk Heli Sedang dan Ringan

KSAU: Kerjasama dengan PT DI untuk Heli Sedang dan Ringan

DIMAS ADITYO - detikNews
Selasa, 01 Des 2015 18:05 WIB
Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna menyebut tidak ada masalah yang terjadi di PT Dirgantara Indonesia (PT DI), sehingga TNI AU lebih memilih helikopter AgustaWestland AW101 buatan pabrikan Italia dan Inggris, ketimbang helikopter keluaran produsen pesawat dalam negeri tersebut. Seperti diketahui, Agus juga menjabat komisaris utama di PT DI.

"Tidak ada masalah apa-apa, tapi (AW101) ini heli angkut berat. Kalau heli angkut ringan dan sedang, (TNI AU) masih kerjasama dengan PT DI," kata Agus saat dikonfirmasi detikcom, Selasa, (1/12/2015).

Rencana pembelian 9 unit helikopter angkut AgustaWestland AW101, yang sebagian untuk kepresidenan dan heli VVIP, memunculkan persepsi bahwa TNI AU lebih mengedepankan produk asing ketimbang produk dalam negeri. Sebab, PT DI sejatinya sudah mampu merakit helikopter angkut yang juga bisa dirancang untuk heli kepresidenan dan VVIP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Heli itu adalah Eurocopter EC-725 Caracal atau disebut Super Cougar. Meski di bawah lisensi produsennya, Airbus Helicopters yang berpusat di Prancis, sebagian besar proses produksi heli tersebut dilakukan di PT Dirgantara. Seperti badan pesawat dan ekor, dengan lokal konten mencapai 20-30 persen.

Namun persepsi itu "diluruskan" oleh Marsekal Agus. Ia menyebut heli AW101 berbeda spesifikasi dengan EC725. Heli AW101, menurut Agus, merupakan helikopter angkut berat. Karena kelasnya berbeda, kebutuhan TNI AU terhadap heli tersebut juga berbeda.

"(EC725 dan AW101) Beda kelas. (EC725) Heli kelas sedang, dan (AW101) kelas berat," ujar Agus.

Meski TNI AU memilih heli angkut berat dari luar negeri, Agus mengatakan kerjasama antara TNI AU dengan PT Dirgantara Indonesia untuk pembelian sejumlah produk helikopter kelas sedang dan ringan tetap berjalan.

"Seperti Super Puma, Puma, dan Super Cougar," tutur Agus, yang saat dihubungi, sedang berada di Australia ini.

Kerjasama itu masih berjalan, termasuk 6 unit helikopter Super Cougar yang sudah dipesan sejak lama dan masuk dalam rencana strategis (Renstra) TNI AU 2009-2014. Sebelumnya, KSAU mengatakan, seharusnya heli Super Cougar pesanan TNI AU itu sudah bisa selesai pada Mei 2015.

"Tapi tidak semudah itu," ucapnya saat menghadiri HUT Korpri ke-44 di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (30/11/2015) lalu.

Rencana pembelian helikopter AW101 menuai polemik. Sejumlah kalangan menilai, semestinya KSAU memprioritaskan produk PT DI ketimbang memesan produk luar negeri yang harganya jauh lebih mahal. Belakangan Marsekal Agus menyebut pihaknya tengah mengkaji ulang rencana membeli helikopter AW101 tersebut.

Pertimbangan TNI AU memilih helikopter AW101, antara lain memiliki kabin yang lebih tinggi yakni 180 sentimeter. Sehingga tamu negara VVIP tidak perlu jongkok untuk masuk ke heli seharga antara US$ 19 juta sampai US$ 25 juta perunit itu.

Keunggulan lain, AW101 memiliki tiga mesin baling-baling sehingga dinilai lebih aman. Heli tersebut juga anti peluru, dan dilengkapi dengan bantalan udara yang dapat mengembang jika terjadi benturan. (dim/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini