"Sudah sejak beberapa minggu yang lalu ikan susah. Kebanyakan (hasil tangkapan) ikan kecil-kecil," kata salah seorang penjual ikan, Ahmad, di TPI Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (1/12/2015).
Sebagai penjual, Ahmad tak tahu persis kondisi di laut. Namun dari hasil tangkapan para nelayan yang melaut di pulau-pulau sekitar Angke, jumlah ikan yang dibawa lebih sedikit dan ukurannya kecil-kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku, jika biasanya memperoleh Rp 350.000 setiap kantong, kini paling banyak Rp 50 ribu atau bahkan rugi. "Kami sering sampai harus nombok," katanya.
Sinan, teman sesama penjual ikan, juga mengatakan hal serupa. Sebab saat ini para nelayan hanya berhasil membawa ikan 2-3 ember. Sedangkan biasanya mereka dapat mengangkut ikan 2 hingga 3 kali lipat lebih banyak.
"Selain nelayan kecil, ikan-ikan di sini didatangkan dari kapal-kapal besar di Kuningan dan Serang. Jadi tidak terlalu terpengaruh dengan banyaknya ikan yang mati di Ancol," kata Sinan.
Siang ini suasana di TPI Muara Angke terlihat sepi. Aktivitas perdagangan di sini biasanya memang terjadi pada pagi hari menjelang subuh dan sore hari menjelang senja. Hanya tampak beberapa orang penjual yang tengah duduk-duduk di kios sambil menanti kehadiran nelayan sore nanti.
Terkait banyaknya ikan mati di laut Ancol, ternyata tak banyak penjual ikan di Muara Angke yang mengetahui hal itu. Mereka juga mengaku tak terpengaruh dengan kondisi tersebut.
"Saya nggak tahu ada banyak ikan mati di Ancol. Mungkin karena di sana banyak limbah. Yang jelas kalau di sini ikan yang dijual segar-segar. Pembeli juga udah tahu, sudah bisa milih ikan yang segar dan nggak segar," kata penjual ikan lainnya, Ratno.
(khf/nrl)











































