Rokok Jatuh di Negara Maju, Negara Berkembang Jadi Target Utama Penjualan

Rokok Jatuh di Negara Maju, Negara Berkembang Jadi Target Utama Penjualan

Rina Atriana - detikNews
Selasa, 01 Des 2015 08:00 WIB
Rokok Jatuh di Negara Maju, Negara Berkembang Jadi Target Utama Penjualan
Foto: thinkstock
Jakarta - Sebuah Jurnal yang diterbitkan Buletin Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penjualan tembakau di negara-negara maju mengalami penurunan yang signifikan. Para produsen rokok selanjutnya menjadikan negara berkembang sebagai target utama penjualan mereka.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan penelitian dilakukan di 16 negara terhadap 462 komunitas penjual tembakau. Pengumpulan data dilakukan sejak 2005. Meski diterbitkan oleh PBB, hanya saja jurnal tersebut tidak serta merta mencerminkan pandangan WHO.

Berdasarkan informasi yang dilansir AFP, Selasa (1/12/2015), salah satu alasan menjadikan negara berkembang sebagai target utama karena pembatasan iklan rokok di negara berkembang lebih longgar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil penelitian menyatakan, orang-orang di negara berkembang terkena dampak yang lebih intens dari penjualan tembakau dibanding mereka yang tinggal di negara maju. Direktur Pengendalian Tembakau dari grup penelitian di Universitas of Bath Inggris, Anna Gilmore, menyebut pemasar tembakau menjadikan remaja sebagai target utama mereka.

"Penjualan jatuh di negara-negara maju dan keuntungan mereka di masa depan bergantung kepada bagaimana mendapatkan orang-orang muda di negara berpenghasilan rendah agar kecanduan," tutur Gilmore pada satu kesempatan.

Peneliti mewawancarai sekitar 12.000 orang selama beberapa tahun dan bertanya dari mana saja mereka melihat iklan tembakau dalam 6 bulan terakhir. Penelitian menemukan bahwa iklan rokok di negara berkembang muncul 81 kali lipat lebih sering daripada di negara berpenghasilan tinggi.

Jumlah outlet penjual rokok di negara berkembang juga jumlahnya 2,5 kali lipat dibanding di negara maju berdasarkan penelitian tersebut.

"Ada kemajuan yang substansial dalam satu dekade terakhir, tapi kita harus berkomitmen terhadap upaya pengendalian tembakau secara global, agar semua orang, di seluruh dunia, dilindungi dari epidemi tembakau," ujar Manajer Program Bebas Tembakau WHO, Armando Peruga. (rna/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads