Dalam jurnal tersebut dijelaskan penelitian dilakukan di 16 negara terhadap 462 komunitas penjual tembakau. Pengumpulan data dilakukan sejak 2005. Meski diterbitkan oleh PBB, hanya saja jurnal tersebut tidak serta merta mencerminkan pandangan WHO.
Berdasarkan informasi yang dilansir AFP, Selasa (1/12/2015), salah satu alasan menjadikan negara berkembang sebagai target utama karena pembatasan iklan rokok di negara berkembang lebih longgar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjualan jatuh di negara-negara maju dan keuntungan mereka di masa depan bergantung kepada bagaimana mendapatkan orang-orang muda di negara berpenghasilan rendah agar kecanduan," tutur Gilmore pada satu kesempatan.
Peneliti mewawancarai sekitar 12.000 orang selama beberapa tahun dan bertanya dari mana saja mereka melihat iklan tembakau dalam 6 bulan terakhir. Penelitian menemukan bahwa iklan rokok di negara berkembang muncul 81 kali lipat lebih sering daripada di negara berpenghasilan tinggi.
Jumlah outlet penjual rokok di negara berkembang juga jumlahnya 2,5 kali lipat dibanding di negara maju berdasarkan penelitian tersebut.
"Ada kemajuan yang substansial dalam satu dekade terakhir, tapi kita harus berkomitmen terhadap upaya pengendalian tembakau secara global, agar semua orang, di seluruh dunia, dilindungi dari epidemi tembakau," ujar Manajer Program Bebas Tembakau WHO, Armando Peruga. (rna/ndr)











































