"Iya, pasti (karena kelompok Santoso). 100 persen," ujar Badrodin saat ditemui di Kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (30/11/2015).
Badrodin menegaskan meski ada personel yang tewas, operasi pengejaran teroris di kawasan Sulawesi tersebut, atau yang dikenal dengan Operasi Camar Maleo tetap berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, seorang prajurit TNI tewas dalam baku tembak dengan kelompok orang tak dikenal di Poso, Sulawesi Tengah.Β Meski begitu, Mabes TNI tak akan menambah pasukan.
Serka Sainuddin (32) tewas dalam operasi Satgas Camar Maleo. Baku tembak terjadi di Dusun Gayatri, Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulteng, Minggu (29/11) pukul 09.30 WITA. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pun tak akan menambah pasukan setelah salah satu prajuritnya itu gugur.
"Tidak ada penambahan," ucap Gatot singkat usai memimpin upacara HUT Korpri ke-44 di Mabes AU TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (30/11).
Korban yang merupakan anggota Batalyon 712 Wiratama, Manado, Sulawesi Utara, tersebut tertembak di bagian punggung kanan (skavula). Dia pun langsung tewas di tempat. Walau tak akan menambah pasukan di daerah rawan tersebut, Gatot mengaku akan meminta jajarannya untuk melakukan evaluasi.
"Kita selalu mengevaluasi, setiap apa yang terjadi, seperti apa yang sedang di sana," ucap mantan Pangkostrad tersebut.
Untuk mengevakuasi jenazah Serka Sainuddin, dua tim emergency darat dan satu tim mobilisasi udara yakni helikopter Penerbangan TNI AD (Penerbad) langsung diterjunkan. Setelah divisum, jenazah prajurit kelahiran Palekko, Sulsel itu langsung diterbangkan ke tempat asalnya. (rjo/bag)











































