Dedi menyampaikan, sama sekali tidak ada pernah terbersit di hatinya menodai Islam agama yang dianut dan dijunjungnya. Apa yang dia sampaikan, jangan diartikan begitu saja.
"Saya sebagai warga negara yang baik, begitu ada surat panggilan pertama akan datang langsung menemui penyidik, memberi penjelasan," terang Dedi, Senin (30/11/2015).
![]() |
Dedi yang sudah bergelar haji ini menegaskan, misalnya saja mengenai ungkapan kabah atau Mekkah dipinjam, sebenarnya ini maknanya bahwa semua tempat harus suci. Terkadang di negeri sendiri, manusia Indonesia kerap merusak hutan juga mata air. Bagaimana kalau semua tempat dianggap suci seperti Mekkah, tentu alam tidak akan rusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian mengenai sunda wiwitan, maksud dia, kembali ke asal mana menjadi orang bersih yang menjaga alam, tidak merusak hutan.
"Sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu maksudnya memberi pencerahan mengenai perilaku hidup yang sayang dengan lingkungan," ujar Dedi.
Dedi juga menguraikan mengenai buku dia dan ceramahnya yang disoal. Sekali lagi, tidak ada pernah terbersit menodai agama yang dia sendiri, keluarga, dan orangtuanya peluk.
"Buku itu menggambarkan tentang budaya bukan sekedar produk seni, Tapi nilai Lokalitas yang mampu membangun kekuatan hidup yang beradab, bernalar kesemestaan, sehingga air, tanah, matahari, udara menjadi senyawa energi bagi kesejahteraan masyarakat tanpa eksploitasi. Karena manusia mentaati ketentuan hukum alam yang pasti," tutup Dedi yang di masa mahasiswa aktif di HMI dan Pemuda Muslimin Indonesia. (dra/dra)












































