DetikNews
Senin 30 November 2015, 16:56 WIB

Lapor ke Polisi, Dua Kubu Peserta Pilkada di Solo Merasa Diteror

Muchus Budi R. - detikNews
Lapor ke Polisi, Dua Kubu Peserta Pilkada di Solo Merasa Diteror Foto: Andhika Akbaransyah
Solo - Pilkada makin dekat. Suasana panas semakin terasa. Dua kubu pasangan yang saling berhadapan dalam Pilkada di Kota Solo, Jawa Tengah sama-sama merasa menjadi korban teror dan memilih melapor ke polisi.

Tim kampanye pasangan nomor urut satu, Anung Indro Susanto - M Fajri, hari ini melaporkan kekerasan yang dialami Diki Candra, konsultan tim mereka. Mobil Diki dirusak oleh orang tak dikenal saat diparkir di sebuah rumah makan di Solo.

Kepada wartawan usai melapor ke polisi, Diki memaparkan soal orang yang melakukan perusakan menggunakan kendaraan bermotor. Motor tersebut berhenti lalu pengendara melemparkan batu paving ke arah mobil. Kaca mobil bagian samping kanan pecah akibat lemparan itu. Sedangkan pelakunya langsung lari.

Diki bukan orang Solo. Dia berada di Solo karena menjadi konsultan pasangan Anung- Fajri, sehingga dia merasa tidak pernah ada urusan pribadi dengan siapa pun di Kota Solo. Karena itu Diki menduga kuat teror itu terjadi terkait proses Pilkada.

Tim kampanye pasangan no urut dua, FX Hadi Rudyatmo - Ahmad Purnomo, buru-buru mengingatkan agar lawan politik tidak terlalu tergesa dan gegabah membuat kesimpulan.

Ketua tim pemenangan pasangan Rudy - Purnomo menilai peristiwa seperti yang dialami Diki bisa dilakukan siapapun sehingga tidak perlu dipolitisasi sedemikian rupa lalu dikait-kaitkan dengan situasi menjelang Pilkada.

Namun tak cuma itu, hari ini tim kampanye Rudy - Purnomo juga melayangkan laporan ke polisi terkait teror yang dihadapi pengisi acara kampanye pasangan tersebut.

Teror itu berupa SMS yang ditujukan kepada Pipik Dian Irawati, yang seharusnya mengisi pengajian yang digelar kelompok pendukung tim kampanye Rudy - Purnomo, pada Senin pagi.

Saat hendak menuju lokasi pengajian, Pipik kebanjiran pesan pendek melalui handphone yang bernada ancaman. Karena situasi yang dinilai kurang kondusif maka Pipik selanjutnya urung mengisi pengajian dan memilih tetap berada di hotel penginapannya.

"Kami melaporkan ancaman-ancaman itu kepada polisi untuk segera ditindaklanjuti. Nomor pengirimnya jelas tertera dan sudah kami sampaikan sehingga polisi akan sangat mudah melacaknya," kata Putut.

Kasubag Humas Polresta Surakarta, AKP Yuliantara mengaku pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi terkait kasus pelemparan mobil.

Namun terkait kasus ancaman lewat pesan pendek kepada Ustadzah Pipik, Yuliantara mengaku belum mengetahui. "Saya akan cek dulu ke Sentra Pelayanan Kepolisian," ujarnya.
(mbr/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed