"BDF adalah suatu forum antar pemerintah pada tingkat menteri yang diinisasi tahun 2008. Tujuan utama dari forum ini adalah untuk menemukan keterkaitan dan hubungan antara demokrasi dan ketatapemerintahan yang efektif untuk kesejahteraan masyarakat," ujar Esti Handayani, Dirjen Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI di Kemenlu, Jakarta, Senin (30/11/2015).
Menurut Esti, sejak diadakan BDF tahun 2008 Indonesia turut mewarnai pertukaran pandangan negara-negara di Asia Pasifik tentang demokrasi. Misalnya saja tentang pandangan demokrasi yang tumbuh dari nilai-nilai universal dan local wisdom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara ini nantinya akan dibuka oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi. BDF VIII mengundang 53 negara sebagai peserta. Selain itu, 67 negara dan 7 organisasi internasional akan hadir sebagai peninjau.
"Hingga hari ini ada 49 negara yang sudah konfirm untuk hadir," imbuh Direktur Diplomasi Publik Al Busyra Basnur di kesempatan yang sama.
"Komitmen secara lisan tulisan ada 7 negara yang akan mengirimkan wakilnya pada tingkat menteri. Yaitu Brunei Darusalam, Fiji, Iran, Palestina, Sudan, Singapura dan Timor Leste," imbuh Al.
"Selain itu, Bangladesh, Maladewa, Hungaria, Zimbabwe, Irak dan Norwegia akan mengirimkan wakilnya pada tingkat wakil menteri,"sambungnya.
Organisasi internasional Uni Eropa, ICRC, International IDEA juga akan hadir sebagai peninjau. Esti menambahkan pihaknya antusias bahwa jumlah negara yang hadir akan bertambah dari yang sudah memberikan konfirmasi kehadiran.
"Saya yakin forum ini ditunggu-tunggu oleh banyak negara karena dianggap sangat berguna. Terutama setelah kejadian Arab spring, dianggap bagus. Forum ini sudah menjadi model negara-negara untuk melaksanakan diskusi tentang demokrasi," ujar Esti antusias. (faj/faj)











































