Beberapa hari ini media sosial diramaikan oleh foto-foto kebun bunga yang indah di Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta. Kebun itu bermekaran bunga-bunga amaryllis yang berwarna salem. Indah memang.
Saking indahnya, banyak warga yang berhenti dan foto-foto. Namun sayang, kegiatan foto-foto untuk disimpan di telepon seluler atau demi keindahan foto yang diunggah di media sosial itu malah merusak sang objek, keindahan kebun bunga itu sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kui kembang dudu kasur, nek rep turu neng ngomahmu kono (itu bunga bukan kasur, kalau mau tidur di rumahmu sana) #SaveAmaryllis," kicau akun bernama @ImunkYakuyaya dikutip detikcom dari Twitter, Minggu (29/11/2015).
Namun, sang pemilik, Sukadi, tak kuasa untuk marah atau melarang warga. Maklum, awalnya, Sukadi, hanya iseng membudidayakan bunga yang dulunya dianggap petani sebagai gulma atau hama. Banyak warga yang membuangnya dan dibakar atau dikasih minyak agar mati.
(Foto: Edzan Raharjo/detikcom) |
Sukadi merintis mengelola tanaman yang memiliki nama lokal "brambang procot" atau "puspa patuk" ini sejak tahun 2000-an secara kecil-kecilan. Lahan yang berada di sekeliling rumahnya di dusun Ngasemayu RT 13 RW 04, Salam, Patuk, Gunungkidul ini ternyata cocok untuk tanaman bunga tersebut. Setiap tahun pada bulan November atau Desember bunga ini mekar dengan indahnya. Bunga ini mekar dan bertahan hanya sekitar 3 minggu setelah itu layu. Musim mekar bunga itu menarik perhatian pengunjung meski sempat merusak keindahannya.
"Niat saya bisa melestarikan bunga ini. Saya tidak menduga bisa seperti ini, tetapi senang juga, ternyata banyak yang suka. Jadi lebih semangat untuk mengembangkannya," kata Sukadi ditemui di rumahnya di kecamatan Patuk, Gunungkidul, DIY, Sabtu (28/11/2015).
Meski keindahannya berkurang karena kunjungan warga, namun warga yang berkunjung banyak membeli bibit bunga miliknya yang dijual Rp 7.000 per bibit. Selain itu, warga yang berkunjung juga secara suka rela menyisihkan sebagian uangnya. Uang yang terkumpul digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan taman ke depan.
"Tahun depan akan saya tata biar pengunjung lebih nyaman dan tanaman tidak terganggu. Ada tempat buat foto-foto, ada tempat santai mungkin juga untuk kulinernya," katanya.
Nah, konsep yang diutarakan Sukadi itu bisa lebih disempurnakan bila berkaca dari pengalaman pemilik kebun tulip Tesselaar di pedalaman kota Silvan, Victoria, Australia, di luar kota Melbourne. Adalah Paul Tesselaar, pemilik kebun tulip itu.
(Foto: Nograhany WK) |
Paul adalah generasi ketiga imigran asal Belanda. Kakek-nenek Paul bermigrasi dari Belanda tahun 1939 dan sesampainya di Australia, kakek-neneknya mulai menanam tulip di suatu kebun kecil. Tahun 1954, kebun kakek-neneknya yang ditanami tulip makin jadi perhatian orang. Maka sejak saat itu kebun tulip Tesselaar dibuka untuk umum dan digelarlah Festival Tulip Tesselaar.
Paul Tesselaar, pemilik kebun tulip Tesselaar (Foto: Nograhany WK) |
Paul memaparkan untuk menyiapkan tangkai-tangkai tulip untuk dipamerkan selama 4 pekan bukanlah perkara mudah. Bibit-bibit tulip itu ditanam setahun sebelumnya. Bibit tulip haruslah muncul kuncupnya di musim gugur, kemudian dipelihara hingga musim dingin, hingga membuatnya mekar di saat musim semi, kala festival tulip diadakan. Usai festival tulip usai dan musim panas tiba, tanaman-tanaman tulip yang sudah melampaui waktu mekarnya itu dibabat habis untuk ditanami kembali.
(Baca juga: Menelisik Sejarah Bunga Tulip yang Cantik di Festival Tulip Victoria)
Saat festival, Paul juga harus memastikan bahwa fasilitas seperti lahan parkir hingga toilet cukup dan membuat para pengunjung cukup nyaman. Sekitar 4 pekan festival, Tesselaar Tulip Festival mengumpulkan sekitar 100 ribu pengunjung. Festival tulip ini sendiri berlangsung selama 4 pekan dari 10 September - 6 Oktober 2015. Setiap pekan, festival tulip ini memiliki tema tersendiri. Banyak juga truk-truk makanan, plus foodcourt dan arena piknik disediakan sesuai tema festival.
Aneka stan makanan di arena kebun tulip Tesselaar (Foto: Nograhany WK) |
"Festivalnya sendiri juga sangat mahal untuk mengatur parkir, toilet dan sebagainya," jelas dia.
Paul diwawancara detikcom dan RCTI -- yang ke Australia atas undangan Australia Plus ABC International -- kala Kebun Tulip Tesselaar miliknya menggelar Tesselaar Tulip Festival 2015 yang berlangsung pada September 2015 lalu.
Papan peringatan dilarang memetik bunga tulip (Foto: Nograhany WK) |
Maka tiket setara AU$ 20-24 (Rp 200 ribu-Rp 240 ribu) diberlakukan untuk menikmati festival tulip. Sepadan dengan keindahan memandangi, menyentuh, merasakan, membaui hingga selfie dengan bunga tulip yang cantik itu, sepuasnya, asal tidak mencabut dan merusaknya!
Halaman 2 dari 1











































(Foto: Edzan Raharjo/detikcom)
(Foto: Nograhany WK)
Paul Tesselaar, pemilik kebun tulip Tesselaar (Foto: Nograhany WK)
Aneka stan makanan di arena kebun tulip Tesselaar (Foto: Nograhany WK)
Papan peringatan dilarang memetik bunga tulip (Foto: Nograhany WK)