Dartam yang Patah Hati dan Dikurung 24 Tahun Akhirnya Dibawa ke RS

Dartam yang Patah Hati dan Dikurung 24 Tahun Akhirnya Dibawa ke RS

Arbi Anugrah - detikNews
Jumat, 27 Nov 2015 15:09 WIB
Dartam yang Patah Hati dan Dikurung 24 Tahun Akhirnya Dibawa ke RS
Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Setelah dikurung dalam 'kandang manusia' berukuran 1x1 meter selama 24 tahun oleh keluarganya, Dartam (60) warga RT 4 RW 6 Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, akhirnya dikeluarkan untuk menjalani perawatan kejiwaan di bangsal sakura RSUD Banyumas.

"Saya akan bantu perawatan di rumah sakit jiwa," kata Bupati Banyumas, Achmad Husein, Jumat (27/11/2015).

Saat hendak dikeluarkan dari tempat Darman dikurung, seorang anggota Koramil sempat membujuk Dartam agar mau ikut untuk menuju Banyumas. Dengan dibantu warga, 'kandang manusia' tersebut akhirnya dibongkar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ikut yuk ke Banyumas beli obat," kata Abu Najib, seorang anggota Koramil Kecamatan Cilongok.

Awalnya Dartam menolak. "Saya mau dibawa ke mana? Saya tidak bisa berdiri," ujar Dartam.


Setelah dibujuk dan diminta agar tidak mengamuk saat gubuknya dibongkar, Dartam akhirnya menurut. Tapi saat sudah keluar, Dartam kesulitan untuk dapat berdiri. Meski sudah dibantu tapi tetap saja Dartam tidak bisa berdiri. Maklum saja, sudah 24 tahun dia tinggal di gubuk kecil tersebut. Jangan untuk berdiri, untuk selonjor saja sangat sulit.

Hingga akhirnya Dartam dibawa menuju ambulans dengan cara ditandu menggunakan kursi plastik berwarna pink. Sesampainya di ambulans, Dartam diberi baju dan sarung.

"Semoga bisa pulih dan kembali ke masyarakat," kata Sukardi, adik ipar Dartam yang mengaku sangat senang saudaranya akan diobati.

Dartam bukannya tak pernah diobati. Dia pernah dibawa ke RSUD Banyumas. Tapi mereka menolaknya. Dia berharap agar pemerintah berkomitmen menyembuhkan Dartam hingga sembuh. Jika kambuh lagi setelah Dartam pulang, dia juga meminta agar pemerintah kembali menyembuhkannya.

"Tapi masyarakat juga harus bisa menerima Dartam dan jangan menyakitinya dengan mengungkit kegilaannya," harap dia.

Dia menjelaskan, sebenarnya masyarakat yang takut kepada Dartam. Dia sendiri tidak takut bahkan ingin merawat Dartam, meski selama 24 tahun Dartam tidak pernah mandi. Bagaimanapun juga, Dartam adalah bagian dari keluarganya. "Dia juga jarang sakit, paling batuk dan pilek," ujarnya.

Adik kandung Dartam, Karsiwen (56) mengatakan keluarga sangat senang Dartam bisa menjalani perawatan di Rumah Sakit, dia pun bercerita saat masih sehat Dartam merupakan pekerja keras. "Dia bisa menderes nira dan mencangkul di ladang," ujar Karsiwen.

Bagi Karsiwen, meskipun kakaknya tersebut mengalami gangguan kejiwaan, tapi Dartam tetaplah saudaranya. Dia juga yang setiap hari membersihkan kotoran saudaranya dengan dibungkus plastik atau daun. "Bagaimanapun juga, dia adalah saudara saya," katanya sambil menitikkan air mata.


Di bekas gubuknya tersebut, terdapat sebilah pisau kecil yang biasa digunakan Dartam untuk membuat layang-layang. Layang-layang itu biasa dia berikan ke anak-anak atau dia gunakan untuk hiasan di dinding gubuk.

Di antara keluarganya, Dartam adalah yang paling pintar. Dia sekolah hingga kelas 4 SD. "Bahasa Indonesianya bagus. Saya malah tidak bisa," ujar dia dengan bahasa Banyumasan.

Tahun 1975, saat masih remaja, Dartam sempat jatuh cinta kepada wanita pujaannya asal Desa Jatisaba, Cilongok atau tetangga desa. Karena ditolak tersebut, dirinya kemudian depresi dan mulai sering mengamuk serta selalu membawa senjata tajam seperti golok dan celurit yang membuat warga sekitar merasa terancam dan ketakutan.

Sejak tahun 1991 akhirnya Dartam terpaksa di kerangkeng oleh keluarganya dan masyarakat di belakang rumahnya dengan dibuatkan tempat sederhana yang mirip seperti kandang kambing dan dipenuhi plastik yang menempel. Sudah tiga kali masyarakat membangun gubuk dan sudah dua kali pula Dartam pernah coba untuk kabur.

"Dartam mencoba kabur dengan menggali tanah di bawah gubuk. Agar tak kabur lagi, bagian bawah gubuk dipasangi bambu," tutup Karsiwen. (arb/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads