"Apa manfaat ekonomi yang diperoleh dengan mempertahankan bahasa daerah?" seorang peserta Konferensi Internasional Bahasa, Budaya, dan Masyarakat, di Jakarta dua hari lalu bertanya kepada Sarwo Ferdi Wibowo, peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Bengkulu. Jika duit yang jadi ukuran, Sarwo pun tak bisa menjawab.
Dalam wawancara kerja atau karier di perusahaan, penguasaan bahasa daerah nyaris tak pernah jadi ukuran atau pertimbangan. Tapi, menurut Sarwo, banyak kearifan lokal bakal musnah bersama punahnya bahasa daerah. Di Pulau Enggano, pulau di sebelah barat Bengkulu, misalnya, praktek dan resep pengobatan tradisional banyak dilakukan dalam bahasa daerah.
"Jika ada orang mengeluh perihai alias sakit perut, dia akan diberi ramuan rempah-rempah dan jampi-jampi dalam bahasa Enggano," kata Gumono, peneliti dari Universitas Bengkulu. Yang jadi soal, penutur bahasa Enggano ini jumlahnya makin sedikit. Hanya tinggal orang-orang tua yang masih menggunakan bahasa Enggano dalam keseharian.
Dari 2.406 warga suku Enggano di empat desa di Pulau EngganoβKaang, Malakoni, Apoho, dan Meokβhanya 1.424 orang yang masih aktif menggunakan bahasa daerah. Menurut Sarwo, makin banyak anggota suku Enggano yang menggunakan bahasa Indonesia. "Bahkan bahasa Indonesia sudah digunakan di lingkungan keluarga, terutama keluarga hasil kawin campur dengan suku lain," kata Sarwo.
Speech4Hearing |
Padahal, bisa dibilang, Pulau Enggano agak terisolasi dari dunia luar. Perlu belasan jam perjalanan dengan perahu motor dari pelabuhan Bengkulu untuk mencapai Pulau Enggano. Tapi ekspansi bahasa Indonesia demikian kuat dan cepat. Di sekolah-sekolah pun, menurut Gumono, bahasa Enggano tak pernah dipakai. Apalagi sebagian besar guru memang bukan keturunan suku Enggano.
"Dalam khotbah di gereja dan pernikahan pun bahasa Enggano mulai ditinggalkan, diganti dengan bahasa Indonesia.... Bahkan sebagian warga sepertinya menganggap bahasa Enggano sebagai bahasa kelas dua," kata Sarwo. Mereka beranggapan bahasa orang tua dan leluhurnya itu tak identik dengan kemajuan dan kehidupan modern.
Bahasa Enggano bukan satu-satunya bahasa daerah yang ada di zona "berbahaya" atau "terancam punah". Di Kampung Tugu, Jakarta Utara, ada komunitas keturunan kuli dan budak Portugis dari abad ke-16. Dulu, menurut Arif Budiman, peneliti dari Universitas Indonesia, warga Kampung Tugu menggunakan bahasa Kreol Portugis dalam pergaulan sehari-hari. Tapi, sejak penutur terakhir bahasa Kreol di Kampung Tugu meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu, hilang pula kemampuan berbahasa Kreol. Bahasa Kreol Portugis hanya tertinggal pada lirik-lirik lagu keroncong dari Kampung Tugu.
Ada lebih dari 720 bahasa daerah dari Sabang hingga Merauke. Tapi, jumlah penutur 13 bahasa, yakni bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Minang, Batak, Bugis, Bali, Aceh, Sasak, Makassar, Lampung, dan Rejang, sudah mengambil porsi 70 persen penduduk Indonesia. Ada sekitar 220 bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari 500 orang.
Bukan cuma dominasi bahasa nasional, bahasa Indonesia, yang mengikis jumlah penutur bahasa daerah. Di beberapa daerah, dominasi bahasa daerah lain juga jadi "persoalan". Menurut Sarwo, bahasa Rejang, yang jumlah penuturnya sekitar 1 juta orang, pun mulai terdesak oleh bahasa Melayu, yang begitu dominan di Sumatera. Kasus hampir serupa juga terjadi di Gorontalo. Menurut Magdalena Baga, peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo, sejumlah bahasa daerah di Provinsi Gorontalo, seperti bahasa Attinggola dan Bonedaa, terus terkikis oleh ekspansi bahasa Melayu Gorontalo. Barangkali, dalam satu generasi, bahasa-bahasa ini bakal jadi sejarah.
Tes |
Tapi apa boleh buat, menurut I Wayan Arka, peneliti bahasa dari Universitas Nasional Australia, bahasa tak hidup di ruang hampa. Mati-hidupnya sangat bergantung pada penutur dan ekologinya. Kekuatan satu bahasa tak bergantung pada bahasa itu sendiri, melainkan pada kekuatan politik, kekuatan ekonomi, dan penguasaan teknologi penuturnya. Bahasa Inggris dan bahasa Mandarin bisa jadi bahasa internasional lantaran disokong kekuatan politik dan ekonomi komunitas penuturnya.












































Speech4Hearing
Tes