Melalui kegiatan yang sangat padat tersebut, santri tidak memiliki kesempatan untuk bergabung dengan kelompok ekstrim. "Para santri ini dari pagi sampai malam mengaji, kegiatannya padat sehingga tak ada kesempatan untuk belajar membuat bom," kata Said saat berbincang dengan detikcom, Kamis (26/11/2015).
Lagi pula, kata Said, pihaknya selalu menekankan bahwa dalam Islam tak pernah membenarkan perilaku ekstrim, teror dan kekerasan. "Saya selalu menegaskan bahwa tindakan ekstrem, kekerasan dan teror tak pernah diajarkan dalam Islam," kata Kiai Said, begitu biasa dia dipanggil di kalangan Nahdliyin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Said, WNI yang pergi ke Suriah dan gabung ISIS sebenarnya sangat kecil. Itu terjadi karena mereka tak ada kesibukkan sehingga mudah diprovokasi untuk gabung dengan ISIS.
Sebelumnya Badan Intelijen Negara menyebut bahwa ada seratusan lebih WNI yang pulang dari Suriah menuju tanah air. Sementara menurut data Kepolisian RI ada sekitar 60 sampai 70 orang.
"Kalau itu (jumlah 100 WNI) tanya ke BIN, kalau data kami (Polri) tidak sebesar itu, sekitar 60-70 orang," kata Badrodin saat dihubungi detikcom, Kamis (26/11/2015).
Badrodin menjelaskan, puluhan WNI itu pulang ke tanah air dengan beberapa cara.Β "Ada yang pulang sukarela, dideportasi, diberangkatkan. Kalau yang itu (60-70) identitasnya jelas. Kami pantau terus itu (pergerakannya)," kata dia.
(erd/try)











































