Membuat Umrah Lebih Bermakna, Tak Sekadar Wisata

Membuat Umrah Lebih Bermakna, Tak Sekadar Wisata

Salmah Muslimah - detikNews
Rabu, 25 Nov 2015 17:38 WIB
Membuat Umrah Lebih Bermakna, Tak Sekadar Wisata
Diskusi Kajian Hasanah (Foto: Abduh/detikcom)
Jakarta - Ibadah umrah merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Tuhan bagi hambanya. Menjalankan ibadah umrah seyogyanya membuat seseorang bisa lebih meningkatkan kualitas dirinya.

Namun terkadang banyak yang menjadikan umrah hanya sebagai gaya hidup saja. Ada yang sudah pergi umrah berkali-kali namun perilakunya masih sama seperti sebelum dia berangkat. Lalu bagaimana membuat ibadah umrah lebih bermakna bagi individu yang menjalankannya?

Hal ini dibahas dalam acara diskusi Forum Kajian Hasanah BNI Syariah dengan tema "Umrah Hasanah Kita Berbuah" di Gedung Tempo Pavilion 1, Lantai 3, Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (25/11/2015). Hadir di acara itu President Director BNI Syariah Dinno Indiano, Dirjen Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah Kementerian Agama Abdul Djamil, Sosiolog Imam Prasodjo, Pakar Keuangan dan Ekonomi Syariah Syafi'i Antonio, penulis sekaligus pengusaha Ippho Santosa, dan jajaran direksi BNI Syariah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pembuka, Dinno Indiano mengatakan tahun depan BNI Syariah akan melaksanakan "Umrah Hasanah Kita Berbuah" di mana dalam umrah ini BNI Syariah tidak hanya menfasilitasi soal pembiayaan namun juga bagaimana membuat umrah sebelum, saat dan sesudahnya menjadi lebih bermakna.

"Kalau hanya mikirin bisnis makin besar dan punya potensi bisnis, semua orang juga bisa. Tapi kita berpikirnya harus ada yang berbeda, kita bikin sesuatu yang lebih bermakna, substansinya dipikirin dengan baik. Mudah-mudahan kita bisa, kita cari pendamping jamaah yang lebih bagus, setelah umrah kita buat persaudaraan haji atau umrah yang jauh lebih bermakna lagi," katanya.

Presiden Direktur BNI Syariah Dinno Indiano (foto: Abduh/detikcom)


Abdul Djamil menambahkan, peminat umrah di Indonesia cenderung meningkat. Sebab Pemerintah Arab Saudi membatasi kuota jamaah haji dari Indonesia. Hal ini berdampak pada panjangnya antrean bagi calon jamaah haji, bahkan bisa sampai bertahun-tahun.

"Problem ini membuat orang berpikir ulang untuk mendaftar haji dan beralih ke umrah. Ini menjadi potential market bagi mereka yang bergerak di travel haji dan umroh," ucap Abdul.

Selain memiliki potensi pasar yang besar, umrah juga menurut Abdul bisa membuat pribadi sesorang lebih baik. Sehingga perlu pembinaan yang bagus bagi para penyelenggara umrah dan haji dalam memberikan pembekalan bagi para calon jemaah.

"Melihat haji dan umrah dengan angle yang macam-macam, selain potensi market yang besar juga bisa membuat seseorang bekepribadian lebih baik, atau biasa disebut haji mabrur," ucapnya.

Abdul Jamil (foto: Abduh/detikcom)


Sedangkan Pakar keuangan dan ekonomi syariah Syafi'i Antonio berpendapat ada hasanah atau kebaikan yang belum optimal di mana umrah dan haji belum menjadi perjalanan yang memberikan transformasi jiwa. Harusnya haji itu menjadi sebuah perjalanan penting bagi hidup, journey of a lifetime.

"Transformative journey, pulang haji dan umrah jadi pribadi yang lebih baik," ucap Syafi'i.

Syafi'i Antonio (Foto: Abduh/detikcom)


Imam Prasodjo menyampaikan umrah hasanah yang harus dipikirikan adalah calon jamaah yang mau umrah atau haji harus mendapatkan pre-departure training. Sebab menurutnya saat ini banyak kritik haji atau umrah yang hanya semata-mata self enjoyment bukan pahala tapi jalan-jalan.

"During umrah juga harus ditata dengan baik. Post departure itu nggak ada, padahal yang baiknya itu post departure yang bisa bermanfaat untuk orang-orang," katanya.

"Bayangan saya BNI Syariah akan membuka kursus pre-departure umrah dengan mengkombinasi pengalaman-pengalaman yang sudah ada," tambahnya.

Imam Prasodjo (Foto: Abduh/detikcom)


Di akhir diskusi, moderator Imam Teguh Saptono menyampaikan, industri umrah dan adalah haji sebuah keniscayaan. Selain itu umrah dan haji juga memiliki potensi sosiologi dan ekonomi, serta bisa lebih bermakna jika dikelola dengan benar.

Imam Teguh Saptono (foto: Abduh/detikcom)
(slh/mad)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads