Bukan kali ini saja, JPO di Jakarta menjadi sorotan. Sejak beberapa tahun terakhir, jembatan penyeberangan di beberapa titik di Jakarta, lebih identik sebagai 'papan reklame' dibandingkan sebagai sarana umum untuk pejalan kaki. Banyak iklan yang menutupi bagian depan dan belakang jembatan. Suasana jadi gelap gulita.
Atmosfer horor semakin terasa, apalagi ketika malam hari. Lampu penerangan tidak ada. Coretan tembok di mana-mana. Di daerah yang sedikit penyeberang jalan, sore hari pun bisa jadi rawan kejahatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa solusinya? Langkah Pemerintah Kota Surabaya mungkin bisa jadi perbandingan. Hampir di semua JPO, mereka memasang CCTV. Kamera pengintai itu dipelototi oleh Satpol PP selama 24 jam. Mereka mencari gelandangan para pengemis, sekaligus menjadi 'mata' seandainya ada kejahatan.
Cara kerjanya, petugas Satpol PP yang memonitor CCTV akan melapor pada petugas di lapangan yang dilengkapi HT. Bila ada temuan, maka satpol PP di lapangan tadi akan bergerak.
Surabaya juga pernah membongkar sejumlah reklame jumbo yang menutupi jembatan penyeberangan. Salah satunya di kawasan JPO Tunjungan Center. Jembatan yang dulunya gelap gulita, kini jadi terang benderang.
Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebenarnya sudah punya instruksi soal JPO di Jakarta. Namun realisasinya belum terlihat. Instruksi pun disampaikan setelah ada kasus di Lebak Bulus.
"Semalam sudah saya instruksikan semua JPO harus terbuka, seperti yang Bundaran HI," kata Ahok.
Mencontoh JPO di Bundaran HI, JPO tersebut terbuka dan tidak ditutupi oleh spanduk atau papan reklame. Selain itu, jembatan ini juga pencahayaannya sangat terang.
"Harus lampunya terang benderang. Itu syarat," ujar Ahok.
Mengenai pemasangan CCTV, menurut Ahok, alat perekam itu dipasang di kelurahan untuk memonitor aksi kejahatan. Dengan demikian, kata dia, aparat keamanan bisa mengawasi kegiatan di JPO tersebut 24 jam melalui monitor di kantor kelurahan. "Kita pasang CCTV, polisi monitor di kelurahan. Itu saja sudah," kata Ahok.
Anda punya solusi lain terkait masalah JPO di Jakarta? Atau memiliki pengalaman tak enak saat melintasi JPO tertentu? Silakan kirim informasi, foto beserta nomer kontak melalui email ke redaksi@detik.com. (mad/faj)










































