Begini Aksi Top Banget Ahok Melawan BPK

Begini Aksi Top Banget Ahok Melawan BPK

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Rabu, 25 Nov 2015 08:10 WIB
Begini Aksi Top Banget Ahok Melawan BPK
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Jakarta - Senyuman Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) usai diperiksa tim BPK terkait sengketa lahan RS Sumber Waras ternyata hanyalah topeng belaka. Ahok siap melawan oknum BPK yang terlibat konspirasi, termasuk bila perlu melawan KPK.

Ahok sangat senang rekor lawannya semakin bertambah. Ia tidak gentar menghadapi upaya-upaya konspirasi yang menyudutkannya dan bahkan menjatuhkannya. Ahok menantang BPK mengungkap rekaman pemeriksaannya yang berlangsung selama 9 jam tersebut.

Ia memastikan tidak akan meluluskan rekomendasi BPK yang konsisten meminta agar pembelian lahan RS Sumber Waras dibatalkan. Ia menolak memakan buah simalakama yang disodorkan BPK. Ahok bersedia diperiksa KPK yang nantinya menindaklanjuti laporan dari BPK. Apabila KPK menetapkan dirinya menjadi tersangka maka Ahok pun siap melakukan perlawanan. "Top banget, Republik ini saya lawan semua," ujar Ahok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut aksi perlawanan Ahok:

1. Melawan BPK Sekaligus KPK

Foto: Ray Jordan
Ahok masih konsisten berada di jalan perlawanan terhadap konspirasi politik. Dia menilai, BPK tendensiusΒ  dan ingin menjatukannya lewat kasus pembelian lahan RS Sumber Waras. Ahok bertekad akan melawan upaya tak baik itu.

"Saya sangat senang, rekor saya sudah bertambah melawan BPK," kata Ahok di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Kemarin (23/11), Ahok sudah menjalani sembilan jam pemeriksaan di BPK. Nantinya, hasil pemeriksaan akan diberikan ke KPK. Ahok tak gentar.

"Kalau KPK sampai mentersangkakan saya dengan alasan yang tidak jelas, berarti takdir saya juga melawan oknum KPK. Wah, lengkap lah, top banget, Republik ini saya lawan semua," ujarnya.

Memang, kemarin Ahok bersikap kooperatif saat pemeriksaan dan tersenyum saat jumpa pers. Namun Ahok hari ini menyatakan sikapnya kemarin hanya pura-pura saja, langkah strategis agar terhindar dari jebakan BPK.

Sebagaimana diketahui, lahan RS Sumber Waras yang dimaksud itu berada di antara Jalan Kyai Tapa dan Jalan Tomang Utara. Ahok menyatakan pembelian lahan RS Sumber Waras sudah sesuai harga pasar Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), yakni mengikuti harga di zona Jalan Kyai Tapa.

Harga NJOP berdasarkan zonasi di Jalan Kyai Tapa lebih mahal ketimbang berdasarkan zonasi di Jalan Tomang Utara. Bila berdasarkan Jalan Kiai Tapa, maka harganya Rp 20,775 juta. Sedangkan menurut BPK lokasi tersebut harusnya mengikuti harga NJOP Jalan Tomang Utara senilai Rp 7 juta.

BPK menaksir kerugian negara dari pembelian itu sebesar Rp 191 miliar rupiah. BPK merekomendasikan Pemprov DKI untuk membatalkan pembelian itu.

2. Tantang BPK Buka Rekaman

Foto: Danu Damarjati/detikcom
Ahok sempat berusaha agar juru kamera diperbolehkan merekam pemeriksaan dirinya oleh BPK, Senin (23/11) kemarin. Namun BPK tak memperbolehkannya dan Ahok bisa memahami sikap BPK. Kini Ahok meminta BPK transparan saja.

"Sekarang saya tanya, dokter boleh enggak buka record (rekaman kesehatan) pasien? Enggak boleh. Tapi kalau pasien mau dibuka, boleh enggak? Boleh," kata Ahok beranalogi. Dia berbicara di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Ahok ingin agar BPK terbuka saja dengan membuka rekaman pemeriksaan dirinya soal kasus pembelian lahan RS Sumber Waras. Pemeriksaan Ahok kemarin memang direkam oleh BPK.

Saat jelang pemeriksaan kemarin, juru kamera Pemprov DKI sempat merekam Ahok yang bersikeras mengusahakan pemeriksaan agar tersorot mata kamera. Namun BPK akhirnya menjelaskan kepada Ahok bahwa hal itu tak bisa dilakukan.

Namun rekaman jelang pemeriksaan Ahok itu kadung menyebar. Ahok mendapat laporan, BPK tak ingin rekaman itu tersebar.

"Itu ditelepon loh, kemarin. Supaya dicabut (video itu), katanya. Saya bilang, ini BPK apa bukan? Kalau BPK resmi, suruh lewat surat dong," kata Ahok.

Melihat sikap BPK yang menginginkan video rekaman berlambang 'Beritajakarta' itu dicabut, Ahok menilai BPK sedang dilanda paranoid. Ketakutan BPK dinilainya karena lembaga itu tak siap untuk buka-bukaan.

"Berarti BPK apa? Takut. Berarti oknum BPK ketakutan sekarang," simpul Ahok.

3. Tolak Makan Buah Simalakama

Foto: Muhammad Iqbal/detikcom
Ahok menyatakan rekomendasi BPK bagaikan buah simalakama. BPK merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi DKI jakarta membatalkan pembelian lahan RS Sumber Waras.

"Ini BPK mengerti enggak sih, beli tanah itu hukumnya adalah terang dan tunai. Nggak bisa dong," kata Ahok di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Ahok menolak untuk membatalkan pembelian lahan yang rencananya untuk pembangunan rumah sakit khusus kanker itu. Apalagi, pembatalan seperti itu mengandung konsekuensi administratif yang tak sederhana.

"BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) nya siapa? Bayar pajak notarisnya siapa?" kata Ahok dengan gaya bertanya-tanya.

Juga, apabila Pemprov DKI menjual tanah yang sudah dibeli maka diperlukan izin dari DPRD DKI. Bila pun dijual, pasti harganya juga menjadi jauh lebih mahal. Kalau dijual dengan harga lebih murah, bisa-bisa negara menjadi rugi.

"Mau enggak yang membeli dengan harga mahal sekarang? Enggak mau. Kalau kita jual dengan harga yang sama maka menjadi kerugian negara atau enggak?" kata Ahok dengan pertanyaan retoris.

Artinya, rekomendasi BPK dinilai akan mengakibatkan konsekuensi yang tak enteng. Rekomendasi itu, menurut Ahok, didasari dari sikap BPK yang memang tendensius terhadap dirinya.

"Jadi namanya memang tendensius. Lalu kasih buah simalakama," tandas Ahok.
Halaman 2 dari 4
(aan/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads