Perjuangan Guru Besar Emiritus ITB Agar Seni Rupa Indonesia Dikenal Dunia

Perjuangan Guru Besar Emiritus ITB Agar Seni Rupa Indonesia Dikenal Dunia

Hardani Triyoga - detikNews
Selasa, 24 Nov 2015 16:12 WIB
Perjuangan Guru Besar Emiritus ITB Agar Seni Rupa Indonesia Dikenal Dunia
Abdul Djalil Pirous (Foto: Hardani/detikcom)
Jakarta - Abdul Djalil Pirous, 83, menjadi salah seorang yang mendapat penghargaan dari Habibie Center di bidang ilmu kebudayaan. Meski usia senja, namun Guru Besar Emiritus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini ingin terus bertekad memberikan kontribusi yang bisa dirasakan masyarakat lewat karya seni lukisnya.

Kemampuan Pirous dalam seni lukis membuatnya dikenal sebagai salah satu seniman perintis seni rupa Indonesia berwawasan Islam.

"Saya berusaha membangun identitas seni rupa modern yang salah satu memadukan unsur seni kaligrafi Islam. Saya ingin di usia yang sudah 83 tahun, sebentar lagi 84 tahun, karya seni jangan sekadar unjuk kehebatan estetik, tapi bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat," ujar Pirous di Perpustakaan Habibie dan Ainun, Jl Patra Kuningan XIII, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesan yang ingin disampaikan Pirous setelah 55 tahun mengabdi untuk kebudayaan Indonesia, ada tiga peran yang diharapkan bisa memberikan kontribusi. Tiga peran yang dimaksud pria asal Aceh ini yaitu pertama, peran sebagai seorang guru atau dosen. Kedua, selaku seorang penggiat kebudayaan, dan terakhir atau ketiga yaitu sebagai seniman.
Pirous saat menerima penghargaan bersama pemenang lainnya (Hardani/detikcom)
"Lewat tiga peran ini, saya ingin berjuang agar seni rupa modern Indonesia bisa memiliki identitas yang bermartabat di tengah pergaulan seni rupa, kebudayaan dunia," tutur alumni Rochester Institut of Technology, Newyork, Amerika Serikat, tersebut.

Menurut dia, karya melukis tak hanya sekadar meneliti. Karya lukis bukan lewat rumus angka, tapi melalui pola pikir studi dengan proses berbagai penelitian.

Misalnya, penelitian yang dilakukan Pirous sebelum menggunakan unsur kaligrafi dalam lukisannya. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami sebelum dituangkan dalam karya lukis. Salah satu karyanya, penggunaan ayat suci Alquran di dalam karyanya.

"Ini pengabdian saya dalam peran seniman. Kalau melukis itu apakah penelitian? Ya. Karena dalam prosesnya itu penuh proses penelitian yang dituangkan ke kanvas dan coretan," sebut pria yang gemar menulis itu.

Peran lain sebagai dosen, Pirous ingin ada kedekatan kehidupan masyarakat dengan seniman. Munculah idenya untuk membuat Pasar Seni ITB. Berawal dari internal kampus ITB, pergelaran ini menjadi acara kesenian bagi masyarakat kota Bandung dan Indonesia. Bahkan, masyarakat dari dunia internasional untuk mengenal Bandung sebagai kota kreatif.

"Pasar seni itu melibatkan manusia dari rumah sampai perguruan tinggi. Syukur Alhamdulillah, kegiatan ini diapresiasi sampai sekarang," ujarnya.

Sebagai penggiat kebudayaan, ia ingin memberikan kontribusi dalam implementasi untuk pendidikan seni rupa di Indonesia. Menurutnya, seni rupa memiliki pendidikan yang multi seni serta desain interior.

Pendidikan seni rupa ada seni rupa dan kriya. Kemudian desain terdapat desain interior, desain komunikasi visual, dan desain produk industri. Pemahaman ini diterapkan Pirous ketika sebagai Dekan pertama di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB pada 1984.

Ia juga terus memperkenalkan seni karya Indonesia kepada dunia internasional. Peran ini dianggapnya sebagai amanah demi tujuan agar seni rupa Indonesia konsisten dan dihargai dunia internasional. Salah satu pameran tunggal yang digelarnya pada tahun ini adalah 'A.D. Pirous:Verses of the Universe', di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

"Tanggungjawab saya sebagai penggiat kebudayaan ini saya bawa ke tingkat internasional dengan berperan aktif terus berkarya," tuturnya.
(hty/hri)


Berita Terkait