"Tiga bulan bisa 100, kadang sehari bisa 5 jenazah," ujar salah seorang petugas penjemput jenazah di Panti Hafara Ari Sugeng Mardopo.
Hal ini disampaikan Ari kepada detikcom di komplek Panti Hafara, Desa Brajan, Tempuran, RT 8 Tamantirto, Kasihan, Bantul, Senin (23/11/2015). Ari mengatakan dia bekerja dengan hati, tak terbesit rasa takut atau risih dengan apapun kondisi jenazah yang mereka temukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ari Sugeng Mardopo (Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
Saat ini Ari dan teman-temannya sudah tak lagi direpotkan masalah mencari tanah pemakaman. Dinas Sosial Bantul kini telah memiliki tanah pemakaman sosial di Pajangan, Bantul.
"Kita tinggal kontak orang Dinsos Bantul, kita kuburkan langsung. Nggak perlu izin yang terlalu resmi. Kita sudah sering kerjasama," imbuhnya.
Banyaknya pekerjaan yang harus ditangani, untuk menjemput, memandikan, menyalatkan, hingga menguburkan hanya dilakukan oleh dua orang petugas panti.
Panti ini memiliki satu mobil ambulans yang digunakan untuk operasional. Mulai dari menjemput anak jalanan, mengantar pasien ke rumah sakit hingga menjemput jenazah.
"Tugas kita nggak ada yang khusus. Siapa yang ada saja. Jemput jenazah dan mengurus 2 orang sudah cukup," kata Ari.
Panti Hafara didirikan 11 tahun lalu oleh Chabib Wibowo (37), mantan anak jalanan asal Jakarta, dan teman-teman. Saat ini, ada puluhan orang dengan gangguan jiwa dirawat di panti tersebut. (sip/try)












































Ari Sugeng Mardopo (Foto: Sukma Indah P/detikcom)