Sang pendiri Chabib Wibowo (37) mengajak detikcom berkeliling di area Panti Hafara yang berdiri di tanah kas desa seluas 5.000 meter persegi, Senin (23/11/2015). Letak persisnya berada di Desa Brajan, Tempuran, RT 8 Tamantirto, Kasihan, Bantul.
"Kamarnya di sini ada 20-an. Kalau bocor sudah nggak, tapi ya begini kondisinya, sedikit-sedikit ada pemasukan, kami bangun terus," ujar Chabib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana kamar di Panti Hafara (Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
Sebagian besar bangunan kamarnya terbuat dari bambu dengan banyak celah di dindingnya. Sedangkan lantainya plesteran semen dan di bagian lain anyaman bambu.
Di setiap kamar diisi 2 sampai 4 orang. Ventilasi secukupnya, panas dan pengap. Setiap orang memiliki satu kasur matras.
"Sekarang sudah kasur yang anti air. Jadi kalau mereka ngompol gampang bersihinnya," kata Chabib.
Lalu bagaimana bangunan dapurnya? Jangan membayangkan dapur besar dengan perlengkapan komplit. Bak dapur darurat, yang ada di sana hanya bangunan terbuka beratap seng, berdinding anyaman bambu seadanya.
(Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
"Alasnya tanah begitu, kalau hujan ya becek. Kalau kami yang penting makanannya mateng," kata Chabib sambil tertawa santai.
Chabib berkata 50 kg beras menjadi jatah makan seluruh penghuni panti untuk 3 hari. Lauknya pun sederhana, tempe, telur dan tambahan sayur.
"Kami syukuri. Yang penting kami bisa makan," tutup mantan anak jalanan asal Jakarta ini.
(Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
Terdapat beberapa kebun dan kolam ikan yang mereka urus. Jika panen, menjadi tambahan bahan makanan untuk seluruh penghuni panti.
"Minimal untuk kita sendiri. Hasilnya juga belum maksimal, sebisanya yang kita kerjakan," imbuh Chabib.
(sip/try)












































Suasana kamar di Panti Hafara (Foto: Sukma Indah P/detikcom)
(Foto: Sukma Indah P/detikcom)
(Foto: Sukma Indah P/detikcom)