Ketum PB HMI Minta Maaf Atas Kericuhan di Sela Kongres Pekanbaru

Ketum PB HMI Minta Maaf Atas Kericuhan di Sela Kongres Pekanbaru

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 23 Nov 2015 15:58 WIB
Ketum PB HMI Minta Maaf Atas Kericuhan di Sela Kongres Pekanbaru
Foto: Muhammad Taufiqqurrahman
Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam M Arief Rosyid Hasan meminta maaf atas kericuhan yang terjadi di sela kongres ke-29 organisasi itu di Pekanbaru, Riau. Arief dan seluruh pengurus PB HMI sangat menyesalkan terjadinya kericuhan di sela kongres  tersebut.

Dia juga berjanji akan terus mengevaluasi pelaksanaan Kongres HMI agar lebih berkualitas dan berintegritas. "Selaku Ketua Umum PB HMI meminta maaf kepada masyarakat Pekanbaru, Riau, jika ada yang kurang berkenan terhadap pelaksanaaan kongres," kata Arief melalui keterangan tertulisnya, Senin (23/11/2015).
 
Menurut Arief antusiasme kader HMI untuk mengikuti kongres ke-29 sangat tinggi. Mereka datang karena ingin menimba pengalaman dan belajar tentang organisasi.

Dalam catatan Arief ada sekitar 1.000 kader HMI penggembira asal Makassar yang ingin ikut terlibat dalam kongres. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak kader HMI yang militan. Sayangnya terjadi miskomunikasi antara panitia dengan kader penggembira tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Permasalahan ini seharusnya tidak terjadi. Kejadian ini disebabkan adanya miskomunikasi antara stakeholder dalam kegiatan ini," kata Arief.

Panitia Kongres HMI, kata Arief, berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan mencegah agar hal serupa tidak terjadi kembali. Kepada semua kader HMI dia berpesan agar bisa menjaga dan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. Apalagi sampai merusak berbagai fasilitas umum.

"Kita semua bersaudara kawan," tutupnya.

HMI adalah organisasi yang lahir di Yogyakarta pada 5 Februari 1947. Agenda Kongres HMI ke-29 yang akan berlangsung 5 hari di Pekanbaru adalah pemilihan ketua umum periode selanjutnya dan membahas isu-isu strategis seperti ekonomi kawasan, radikalisme, terorisme dan kemajuan teknologi.

(erd/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads