BNPT Akan Telusuri Ancaman Jaringan Santoso yang Disebar di Facebook

BNPT Akan Telusuri Ancaman Jaringan Santoso yang Disebar di Facebook

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 23 Nov 2015 15:28 WIB
BNPT Akan Telusuri Ancaman Jaringan Santoso yang Disebar di Facebook
Kepala BNPT Komjen Saud Usman Nasution. (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Sebuah rekaman video yang mengaku sebagai Santoso Abu Wardah AsySyarqi Hafidzahullah beredar di situs jejaring sosial Facebook. Dalam video tersebut Santoso mengancam akan menyerang beberapa kantor pemerintahan. Bahkan juga mengancam akan mengibarkan panji hitam di Istana Merdeka, Jakarta.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Saud Usman Nasution mengaku sudah mengetahui tentang pesan orang yang mengaku sebagai Santoso di Facebook itu. Namun BNPT belum bisa memastikan bahwa pesan itu memang sengaja dibuat oleh jaringan teroris kelompok Santoso.

"Harus kita cek dan telusuri dulu kebenarannya siapa yang membuat," kata Saud ketika dikonfirmasi detikcom, Senin (23/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang pasti, kata Saud, semua website yang berisi konten negatif dan mengajarkan radikalisme akan diusulkan untuk diblok. Tak hanya memblokir, aparat penegak hukum juga akan dikerahkan untuk mencari si pembuat laman radikal tersebut.

Kepada masyarakat, BNPT mengimbau agar tidak terpengaruh dan terpancing oleh provokasi melalui media sosial.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Irjen Tito Karnavian juga mengaku sudah mengetahui adanya video tersebut di Facebook.Β  Mantan Kadensus Polri ini belum yakin suara tersebut adalah pimpinan MIT Santoso alias Abu Wardah yang asli.

"Kita belum tahu apakah itu suara asli dia atau tidak," kata Tito kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Meski demikian, pihaknya tidak meremehkan ancaman tersebut. Pihak kepolisian akan meningkatkan keamanan.

"Yang jelas kita pasti tingkatkan pengamanan di Polda, bukan hanya pengamanan tapi kelompok di Jabodetabek akan kita monitor ketat sekali," kata Tito.

(erd/nrl)


Berita Terkait