Yati, demikian sapaan akrabnya, mengajar anak-anak Desa Atiahu, Dusun Balakeu, Kecamatan Siwalalat, Maluku, yang hidup nomaden di pedalaman hutan. Bergantian dengan rekannya seminggu sekali, dia menempuh perjalanan 9 jam untuk bisa menemui para muridnya.
"Di pagi hari saya harus menggunakan ojek untuk menuju ke persimpangan ke tempat tugas saya karena memang tidak ada akses jalan yang dilalui, maka kami melalui hutan dan sungai," kata Yati di sela-sela Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan yang digelar Kemendikbud di Istora Senayan, Senin (23/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyusuri hutan karena medannya sulit sehingga kami tidak bisa membawa bekal. Jadi di perjalanan itu saya makan daun dan minum air. Medannya itu sungainya besar membelah Kabupaten Seram Timur dan Selatan lebarnya 100 meter," paparnya.
Sesampainya di hutan, sering kali tak ada murid yang bisa ditemui. Kadang, Yati harus mencari anak-anak itu lebih dalam lagi ke hutan.
"Kadang ada muridnya kadang tidak ada muridnya karena masyarakat di sana nomaden sehingga kalau mereka sudah ke hutan jadi kita harus cari atau kita harus pesan orang yang mau ke hutan untuk turun," ceritanya sambil disambut tangis oleh para peserta.
Banyak anak-anak di Dusun Balakeu ini tidak menuntaskan sekolahnya hingga tamat SD. Sebagian ada yang sudah menikah di usia sangat muda. "Akses jalan juga harus diperhatikan, pihak sosial harus mendampingi mereka, memberikan pelatihan dan pemahaman supaya mereka berkembang," kata Yati.
Menjelang peringatan Hari Guru Nasional, ia berpesan pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap guru. Sebaiknya ada tunjangan dan fasilitas untuk mereka yang bertugas di daerah terpencil. (mad/mad)











































