Untuk anak kandung, Iskandar dan Nengsih memiliki 2 orang anak. Meski begitu keduanya tidak membeda-bedakan dan tetap menganggap anak asuhnya adalah bagian dari keluarga intinya.
"Anak saya tetap 5. Kandung atau tidak mereka tetap anak saya," tegas Iskandar saat ditemui di rumahnya di Kampung Kebon, Jejalen Jaya, Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (22/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya memang berat, tapi ikhlas. Tekad saya anak-anak harus sekolah. Dulu saya belum kerja kayak gini, serabutan. Kerja jadi (kuli) bangunan. Terus ada pendaftaran Kamra (Keamanan Rakyat). Itu tahun 1998,Β waktu kerusuhan. Terus lulus. 1999 akhir daftar Satpol PP, lulus. Tahun 2007 baru diangkat jadi PNS. Dipindahin ke Dishub setahunan ini," kisah Iskandar.
Walau tinggal di rumah yang sangat sederhana di pinggir sungai, Iskandar tetap mensyukuri apa pun yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk dia dan keluarga. Ia yang 5 tahun lagi akan pensiun, berencana ingin membuka usaha jika sudah tidak bekerja.
"Kalau udah pensiun, mau ngurus cucu aja. Kalau bisa mau wiraswasta kalau ada modal. Buka kelontong aja, biar bisa penuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari," ungkap Iskandar sambil tersenyum.
Perjuangan Iskandar patut dijadikan teladan. Walau keadaan susah, ia tak pernah mengeluh dan terus berusaha. Bahkan ia pun adil dalam mengurus anak-anaknya meski 3 di antaranya bukan anak kandung. Semua anaknya ia sekolahkan semua meski tidak sampai bangku kuliah. Kini semua anaknya sudah berkeluarga.
"Ya memang kami ngasuh anak adik saya. Diserahkan ke saya waktu orangtuanya meninggal. Disekolahin semua sama Kak Andy sampai SMA atau STM. Sampai ngawinin semuanya sama saya dan bapaknya," kata Nengsih di lokasi yang sama.
Banyak pelajaran yang diberikan Iskandar untuk anak-anaknya. Meski hidup sangat sederhana, anak-anak Iskandar sangat bangga terhadap ayahnya tersebut.
"Bapak tuh orangnya dari dulu nggak incar materi. Kalau incar materi, rumahnya nggak akan kayak gini. Bahkan bapak sekolahin 3 anak yang bukan anak kandungnya sampai SMA. Apa aja dikerjain walau hidup emang keras," tutur anak pertama Iskandar, Nur (31), saat ditanya tentang sosok sang ayah.
"Saya diajarin bapak untuk mandiri dan disiplin. Bapak ajarin ke anak-anaknya kalau kerja pakai hati, urusan orang mau terima kasih belakangan. Yang penting berusaha aja," lanjut perempuan yang bekerja sebagai SPG itu.
Ternyata Iskandar sesekali memungut paku ditemani anaknya. Seperti diungkapkan anak keduanya, Cahaya Iskandar (29) yang mengaku belum lama tahu tentang kegiatan 'ekstra' ayahnya itu.
"Saya tahu juga baru kemarin, baru-baru ini aja. Pernah saya nganter ke kantornya, pas bapak capek kayaknya. Terus bapak minta berhenti di jalan, ternyata cari paku," kata Cahaya.
"Pastinya saya bangga sama bapak. Soalnya bapak sering ngomong, kita kan kalau beramal nggak selalu harus pakai uang. Itu yang diajarin bapak, kalau enggak punya uang, lakukan apapun asal bermanfaat. Kalau bapak emang jarang di rumah, dari dulu waktu kerja Satpol PP. Kayaknya enggak pernah ada liburnya," sambungnya. (elz/bag)











































