Desakan itu disuarakan saat Djan Faridz menyampaikan pidatonya di hadapan pengurus PPP se-Indonesia dalam Silatnas di kantor Djan Faridz, Jalan Talang-Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (22/11/2015).
"Carut marut setahun ini kita lupakan, apa yang telah dilakukan oknum untuk merusak PPP kita ampuni, maafkan.." ucap Djan dalam sambutannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan, itu saudara kita. Itu adik kita. Kakak kalau lihat ada adik yang ribut, ditarik (dirangkul -red). Jangan (PAW), saya enggak setuju," ujar Djan menanggapi sahutan itu.
"Makin besar kepengurusan kita, makin banyak tenaga yang bisa digunakan. Supaya umat Islam bisa bersatu padu," imbuhnya.
Djan mengatakan, kepengurusan kubu Romahurmuziy harus dirangkul untuk kepentingan pemilu 2019. Jika terpecah belah, maka PPP bisa terpuruk di Pemilu yang akan datang.
"Kita butuh pengurus yang banyak, tarik saudara kita yang sempat tersesat menjadikan mereka pengurus kita. Jangan diledek, ditarik dimaafkan," imbau Djan.
Meski begitu, suara yang meminta agar Djan memberhentikan anggota DPR atau DPRD tingkat provinsi/kab/kota yang ikut Muktamar Surabaya di bawah Romahurmuziy terus disuarakan. Namun Djan menegaskan untuk islah.
"Jangan di-PAW, mereka itu meniti karir politik panjang. Hormati beliau, mereka sudah pandai di politik. Di DPR tinggal dipoles sedikit, sekarang wajib menyuarakan umat Islam," imbuh ketum partai berlambang ka'bah itu.
"Mereka kita beri kesempatan, kalau tetap tidak dilakukan, itu baru kena sanksi. Enggak langsung PAW, ada teguran I, II, III. Sekarang tarik, ajak mereka saudara kita. Saya nggak setuju PAW," tegas Djan. (miq/bag)










































