Mantan KSAU yang kini jadi pengamat penerbangan Marsekal (Purn) Chappy Hakim menilai, jika maskapai ketahuan menjual tiket melebihi kemampuannya, maka maskapai tersebut bisa dibekukan.
"Kalau benar kejadian kemarin karena menjual seat yang melebihi kapasitasnya. Itu sudah cukup untuk membekukan maskapainya, itu kan enggak benar," kata Chappy saat berbincang dengan detikcom, Minggu (22/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul itu kan kriminal, itu penipuan. Ada nggak maskapai penerbangan yang boleh mendapat izin beroperasi menjual tiket untuk satu rute, yang melebihi seat yang tersedia," sambung Chappy.
Ditambahkan Chappy, jika di sebuah bandara ada penumpang di landasan, apalagi sampai 'menyerbu' pesawat lain dan berujung chaos, maka itu merupakan hal yang sangat fatal dan akan sangat merugikan bagi kehormatan negara.
"Itu merugikan kehormatan negara, bukan hanya maskapai atau otoritas penerbangan nasional saja. tapi ada international airport, karena sampai ada orang keluar di runwaynya. ini memalukan kehormatan negara di mata internasional," pungkas Chappy.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi M. Djuraid menyebut pergantian pesawat dilakukan Lion Air untuk JT 898 dengan ukuran pesawat yang lebih besar. Pergantian itu lantaran ada dugaan Lion Air menjual tiket melebihi kapasitas pesawat.
"Dugaan sementaranya adalah mereka menjual tiket melebihi kapasitas. Akibatnya pada saat hari H pesawat yang untuk mengangkut kurang," ujar Hadi saat dihubungi terpisah.
Hadi menyebut Lion Air mengajukan pengantian pesawat dari jenis Boeing 737 menjadi Airbus A 330 dikarenakan kapasitas pesawat kedua lebih besar dari pesawat sebelumnya. "Jadi gambarannya dari pesawat awal yang kira-kira menampung 190 orang, diganti menjadi pesawat baru dengan daya tampung sekitar 300 orang," ujar Hadi.
Humas Lion Air Andy M Saladin mengaku belum mendapat informasi mengenai penjualan tiket melebihi kapasitas. Andy hanya menyebut delay disebabkan masalah operasional.
"Itu delaynya kenapa, saya belum mendapatkan informasi. Delay karena masalah operasional," ucap Andy saat dihubungi detikcom, Sabtu (21/11/2015).
Ditanya lagi soal dugaan Kemenhub tentang penjualan tiket melebihi kapasitas, Andy tetap enggan berkomentar. Dia mengaku belum mendapat informasi lebih jelas mengenai hal itu.
"Saya belum dapat berkomentar kalau soal itu," kata Andy. (adit/mad)











































