Cerita Rhido ini dimuat di salah satu media Belanda, Weesper Nieuws pada 8 Agustus 2007 silam. Dalam berita berbahasa Belanda, Rhido diceritakan lahir di Indonesia pada tahun 1979. Ibunya menitipkan pria itu ke sebuah panti asuhan ketika dia berusaha 3 bulan karena terlalu miskin untuk merawatnya.
"Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidaktahuan akan jati dirinya, Rhido pergi awal tahun ini ke negeri asalnya, Indonesia untuk mencari ibu kandungnya. Rhido tidak tahu banyak tentang tanah air tempat ia dilahirkan. Seiring berjalannya waktu, sebagai seorang anak ia merasa ingin tahu siapa ibunya," tulis berita tersebut seperti diterjemahkan detikcom, Jumat (20/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Pada tahun 1994, Rhido pertama kali datang ke Indonesia untuk melihat di mana dia dilahirkan. Lewat Panti Asuhan 'Kasih Bunda', dia secara bertahap datang untuk mencari tahu lebih banyak tentang ibu kandungnya.
Rhido kembali ke Indonesia pada tahun 2007, lebih dari 10 tahun sejak dia memulai pencariannya. Yayasan Loka Kasih yang merupakan tempat Ridho diserahkan akhirnya mendapat kontak ibu kandungnya. Mereka lalu bertemu di Sendang Sari Hotel, Batang, Jawa Tengah.
"Pada pertemuan pertama, kami berpelukan dan dia menangis. Dia mengatakan dengan sangat sering kata 'bedank' terhadap saya, yang
berarti 'terima kasih', ucap Ridho.
Kala itu, perasaannya campur aduk. Apalagi, ketika sang ibu memperkenalkan namanya yaitu Kamah Tuminem. Ada perasaan aneh awalnya dalam diri Ridho.
"Sebenarnya ada yang aneh pada saat itu, ketika saya bertemu dengannya, saya tidak tahu bagaimana caranya, tetapi ia (ibu kandung Ridho) merasa familiar dengan diri saya. Dia benar-benar merasa seperti dia adalah ibu saya," ucapnya
Ridho juga bertemu dengan suami ibunya, Wick. Namun, Wick bukanlah ayah kandungnya. Bahkan, ternyata ayah kandung Ridho hanya sempat menengok sekali ketika ibunya sedang hamil.
"Saya sangat menyayangkan sekali bahwa saya belum bertemu dengan ayah saya, tetapi saya bisa hidup damai di sana. Ia(ayah kandung Ridho) juga tidak dapat ditemukan. Ia sudah punya tempat lain dan ia (ayah kandung Ridho) hampir tidak memainkan peran dalam kehidupan saya," ungkap Ridho.
Ridho dan ibu kandungnya kemudian bertukar oleh-oleh. Sang ibu memberikan pakaian tradisional berupa sarung saat dikunjungi di Petarukan. Mereka lalu pergi ke pantai untuk piknik serta tidak lupa berfoto-foto.
"Kami bicara panjang lebar. Ibu saya menjelaskan bagaimana proses adopsi hingga akhirnya hilang kontak. Dia juga mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya orang yang mempunyai hubungan darah denganku," ceritanya kata Rhido.
Dua hari kemudian, Rhido kembali ke Belanda. Namun, kisah pertemuan itu terus dia kenang dalam hati. (imk/mok)












































