Modernisasi di Bidang Pertanian, 'Oleh-oleh' Gubernur Ganjar dari Belanda

Modernisasi di Bidang Pertanian, 'Oleh-oleh' Gubernur Ganjar dari Belanda

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 18 Nov 2015 18:50 WIB
Modernisasi di Bidang Pertanian, Oleh-oleh Gubernur Ganjar dari Belanda
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Bulan Oktober lalu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan kunjungan ke Belanda untuk menjalin kerja sama. Hari ini salah satu kerja sama diwujudkan dalam program Peningkatan Produksi dan Pemasaran Beras Unggul Nasional.

Kerja sama dilakukan oleh tujuh lembaga yaitu Badan Ketahanan Pangan Pemprov Jateng, Bank Jateng sebagai pendamping pemasaran dan pendanaan, PT Unggul Niaga Selaras sebagai penyedia benih dan pupuk, serta PT Smart Berdikari untuk pemasaran
padi.

Selanjutnya ada ICI South East Asia & Pasific Belanda dan VECO Belgia untuk memberikan  pelatihan penerapan teknologi pertanian, serta Yayasan Jawa Tengah Berdikari sebagai pelaksana program. Dalam program ini pemerintah Belanda memberikan subsidi dana program mencapai 49% dari total dana keseluruhan 1,9 juta Euro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program itu diluncurkan hari ini di Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Program tersebut bertujuan meningkatkan pendapatan 10 ribu keluarga petani anggota dari 58 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di 29 Kabupaten di Jawa Tengah. Program tersebut tidak hanya mengajari carai bertani secara modern, tapi juga mengawal hingga tingkat pemasaran.

"Perusahaan yang kami gandeng bersedia membeli padi petani melebihi harga pasar, mensubsidi pupuk lebih murah, dan memberi petunjuk agar kualitas padi petani sesuai dengan standar pasar," kata Anggota Badan Pelaksana Program, Fadlil Kirom, Rabu (18/11/2015).

Pertanian modern yang dimaksud salah satunya yaitu memanfaatkan aplikasi Googlemaps di smartphone. Data koordinat lahan masing-masing Gapoktan akan dimasukkan. Nantinya juga akan ada data nama petani, luas lahan, kondisi tanah dan cuaca, kebutuhan pupuk, dan lainnya dalam jangka waktu tertentu.

"Kami menargetkan pendapatan petani meningkat 30 persen," tandasnya.

Dalam sistem pertanian yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia itu, empat Gapoktan akan menjadi pelaksana dengan total 125 hektar pada empat bulan pertama. Gapoktan pelaksana yang terpilih dari 158 Gapoktan nominator mendapatkan bantuan berbagai peralatan seperti sabit bergerigi, alat penyiang, mesin perontok padi, dan lainnya.

"Pelan-pelan kita menuju pertanian organik dan hamparan, tidak ada galengan lagi. Saya ingin ada lembaga penjamin, jadi kalau gagal panen tidak ada lagi petani yang jatuh miskin. Harapannya, produksi beras dan kesejahteraan petani meningkat," tandas Ganjar. (alg/hri)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini