Kemenlu Adakan Konferensi Internasional Ulama dan Cendikiawan Muslim

Kemenlu Adakan Konferensi Internasional Ulama dan Cendikiawan Muslim

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Rabu, 18 Nov 2015 14:21 WIB
Kemenlu Adakan Konferensi Internasional Ulama dan Cendikiawan Muslim
Foto: Aditya Fajar Indrawan
Jakarta - Kementerian Luar Negeri dan International Conference Of Muslim Islamic Scholars (ICIS), akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Ulama dan Cendikiawan Muslim di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Konferensi tersebut bertujuan untuk mempromosikan pendidikan pancasila sebagi pola fikir alternatif pada negara pluralisme.

Ditemui dalam press briefing di Ruang Garuda, Kementerian Luar Negeri, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (18/11/2015). Kementerian Luar Negeri diwakili Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Esti Handayani, Prof Mudjia Raharjo Rektor UIN Malang, bersama Sekjen ICIS KH. Ahmad Hasyim Muzadi, mengatakan pelaksanaan Konferensi Internasional Ulama dan Cendikiawan Muslim akan berlangsung di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada 23 - 25 November.

"Tujuan umum ingin mengaktualisasikan islam yang rahmatan lil alamin dan integrasinya dalam pendidikan di Indonesia, selain itu juga menjadi pemahaman islam yang modern, dengan falsafah pancasila, sebagai jembatan islam dengan dunia barat," kata Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Esti Handayani membuka press briefing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan mengundang lebih dari 45 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara. Konferensi ini diharapkan menjadi jembatan pluralisme kepada seluruh dunia dengan menampilkan sistem pola-pola berfikir dan pendidikan di Indonesia yang menjamin keragaman antar agama.

"Mempromosikan pendidikan pancasila sebagai pola fikir alternatif baik kepada negara yang hanya mono religion maupun plural agamanya seperti Indonesia. Diplomasi Kemenlu menjadi penting karena dapat menembus jalur yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan diplomasi G to G," sambung KH Ahmad Hasyim Muzadi selaku Sekjen ICIS.

Ditambahkan Hasyim, pendidikan agama perlu diperkuat karena belakangan ini banyak aliran-aliran ideologi sekuler dan masuk ke Indonesia. "Benar-benar memerlukan penguatan, karena banyak banyak extrimis kiri dan kanan dan itu harus dikembalikan ke tengah, karena moderat Islam dan filsafat dari pancasila dapat menutup lubang-lubang trans nasional," jelas tokoh ulama PBNU itu.

Menurut Hasyim, dengan banyaknya kejadian terorisme yang terjadi belakangan ini dengan membawa nama agama Islam, hendaknya harus direm dan mengembalikan fungsi sebenarnya.

"Terorisme di dunia hanya perumpamaan ayam dan telur siapa yang saling mendahului. Bukan cuma melakukan pemihakan ataupun pengutukan saja. Tapi juga perlu ada penyadaran dengan mengembalikan agama pada fungsinya dan mengerem hegemoni politik yang menggunakan agama sebagai sarananya," sambung Hasyim.

Dipilihnya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dikarenakan, program pendidikan yang khas antara pengabungan budaya khas pesantren dengan pendidikan modern pada umumnya. "UIN Malang merupakan perguruan tinggi yang khas dimana tradisi pendidikan modern berdampingan dengan tradisi pendidikan di pondok pesantren. Sehingga diharapkan para duta yang hadir dapat menyaksikan sendiri sistem pendidikan agama yang diterapkan di Indonesia seperti apa," ujar Rektor UIN Malang, Prof Mudjia Raharjo. (adit/spt)


Berita Terkait