Transkrip rekaman percakapan antara Novanto, Reza dan Direkutur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin tersebut kini sudah diserahkan Menteri ESDM ke MKD DPR bersamaan dengan laporan dugaan pencatutan nama Presiden dan Wapres minta saham terkait kontrak Freeport. Transkrip itu berasal dari rekaman pembicaraan dalam pertemuan ketiganya pada 8 Juni 2015 di Hotel Ritz-Carlton di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Awalnya mereka bertiga tengah membahas soal nasib perpanjangan kontrak PT Freeport di Papua. Dalam salah satu percakapan terungkap bahwa jika rencana berjalan mulus, mereka akan beli jet pribadi, main golf dan bersenang-senang.
"Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy. Kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif," kata seseorang yang dalam transkripan itu ditulis dengan inisial R.
Novanto memang tak membantah ada pertemuan dirinya dan pengusaha Reza Chalid dengan Presdir PT Freeport Indonesia. Namun Novanto menampik mencatut nama Presiden dan Wapres untuk meminta saham Freeport. Sedangkan pembicaraan seputar pembelian jet pribadi itu, bagi Novanto hanyalah banyolan semata.
"Itu guyonan orang yang antara pengusaha dan pengusaha. Mereka berusaha becanda. Yang tidak serius, tapi memang ingin melihat seberapa jauh namanya pengusaha, melihat bagaimana sifat orang ini apa bisa dipercaya. Ingin mengetahui lebih jauh," kata Novanto saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (17/11) petang.
![]() |
Demikian pula saat nama Menko Polhukam Luhut Pandjaitan disebut-sebut, Novanto menuturkan, itu juga bagian dari joke.
"Menurut pendapat saya, dia cuma berusaha menanyakan. Memberikan suatu joke-joke pada masalah itu. Memberikan fooding-fooding, ingin memancing ke CEO tersebut," katanya.
Namun bagian yang menyebut nama Presiden dan Wapres bagi Novanto bukanlah guyonan. Novanto mengaku sedang berupaya mencari tahu permasalah seputar Freeport bersama pengusaha Reza yang juga menaruh kecurigaan terhadap Freeport.
Meski demikian gaya bercanda Reza Chalid dengan Novanto tersebut terasa janggal bagi masyarakat bawah yang masih didera kesulitan hidup. Apakah hal seperti ini lucu bagi pengusaha seperti mereka?
(van/nrl)












































