Kasus Dugaan Suap Hakim PTUN, OC Kaligis Hadapi Tuntutan

Ferdinan - detikNews
Rabu, 18 Nov 2015 09:02 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Advokat senior Otto Cornelis Kaligis menghadapi sidang tuntutan. Kaligis didakwa menyuap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Sumut, untuk memuluskan permohonan uji kewenangan Kejati dalam penyelidikan kasus Bansos.

"Sidang tuntutan pukul 11.00 WIB siang," kata salah satu anggota tim pengacara Kaligis, Hanafiah Alamsyah, Rabu (18/11/2015).

Kaligis didakwa secara bersama-sama  dengan Moh. Yagari Bhastara Guntur alias Gary, Gatot Pujo Nugroho dan Evy Susanti menyuap memberikan duit suap total USD 27 ribu dan 5 ribu dollar Singapura (SGD).

Duit suap ini diberikan dengan maksud mempengaruhi putusan atas permohonan pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara atas penyelidikan tentang dugaan terjadinya tindak pidana korupsi Dana Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Daerah Bawahan (BDB), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tunggakan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Penyertaan Modal pada sejumlah BUMD pada Pemprov Sumatera Utara.

Dalam dakwaan, Jaksa pada KPK mencatat pemberian uang kepada Tripeni Irianto Putro selaku Hakim PTUN Medan sebesar SGD 5 ribu dan USD 15 ribu, Dermawan Ginting dan Amir Fauzi selaku Hakim PTUN masing-masing sebesar USD 5 ribu serta Syamsir Yusfan selaku Panitera PTUN Medan sebesar USD 2 ribu.

Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Rabu (11/11) Kaligis menyangkal memberikan uang kepada 3 orang hakim, namun mengakui memberikan uang sebesar USD 1.000 untuk Syamsir Yusfan.

"Saya dengar (kesaksian) Tripeni ada katakan konsultasi, tapi saya tidak ingat. Ketika saya tanya saksi-saksi pernah nggak lihat saya berikan uang? (Dijawab) nggak. Yang saya kasih duit itu panitera 1.000 USD, itu April," sebut Kaligis dalam persidangan.

Tentunya keterangan Kaligis bertolak belakang dengan pengakuan Hakim Tripeni. Dia blak-blakan mengaku menerima amplop berisi duit langsung dari Otto Cornelis Kaligis sebanyak 2 kali yakni SGD 5 ribu dan USD 10 ribu. Sementara pemberian  duit USD 5 ribu diterima Tripeni melalui Gary pada 9 Juli 2015.

Duit pertama sebut Tripeni diberikan pada akhir April 2015 usai Kaligis berkonsultasi terkait permohonan gugatan yang akan didaftarkan di PTUN Medan. Menurut Tripeni, Kaligis datang ke ruang kerjanya di kantor PTUN Medan pada 29 April 2015.

Saat itu Kaligis datang diantarkan oleh Syamsir Yusfan, panitera PTUN Medan. Duit SGD 5 ribu lalu diberikan Kaligis dalam amplop.

Penerimaan duit kedua yakni sebesar USD 10 ribu dari Kaligis saat datang kembali ke kantornya pada 5 Mei 2015.

"Setelah konsultasi dia (Kaligis) memberikan amplop di meja dan keluar ruangan. Ternyata dolar Singapura dan saya taruh di laci kantor," ujar Tripeni bersaksi untuk terdakwa Syamsir Yusfan pada Kamis (1/10/2015).

Pengakuan soal duit dari Kaligis disampaikan Hakim Amir Fauzi. Duit ini memang diterimanya  melalui Gary. Duit USD 5 ribu diterima Amir dalam amplop putih yang diselipkan dalam buku.

"Pada 5 Juli di halaman parkir di kantor PTUN Medan. Saya dengan mobil Pak Ginting (Dermawan Ginting Hakim PTUN -red). Tidak lama kemudian Gary datang ke mobil Pak Ginting dan bawa 2 buku bergambar hakim Sarpin. Kemudian dia meletakkan buku berisi amplop di jok belakang mobil dan mengatakan 'ini titipan Pak OC'," tegas Amir Fauzi saat bersaksi untuk terdakwa Syamsir Yusfan pada Kamis (1/10/2015).

Begitu juga dengan Hakim Dermawan Ginting yang mengakui menerima duit USD 5 ribu melalui Gary yang disebut sebagai titipan dari Kaligis. Duit ini diterima terkait proses permohonan gugatan pengujian kewenangan Kejati yang memanggil pejabat Pemprov Sumut dalam kasus dana bansos.

"Pertemuan (5 Juli 2015) saya ke rumah Amir (Hakim Amir Fauzi) terus ke kantor, saya masuk kantor sudah ada mobil di halaman depan kantor. Mobil Alphard hitam. Kemudian kami ke belakang. Gary rupanya mengikuti langsung dia masuk ke mobil saya. (Saat) masuk (Gary berbicara, red) 'Pak ini ada titipan dari Pak OC. Ya udah taruh saja, taruh di jok mobil belakang," kata Dermawan Ginting saat itu di persidangan. (fdn/aan)