"Saya serahkan kepada munas. Jangan maksa-maksa, tidak boleh maksa-maksa. Kalau ada yang menghendaki pergantian ya silakan," ujar Agung di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (17/11/2015).
Agung mengaku siap mengalah kepada kader-kader muda Golkar terkait posisi ketua umum. Ia menilai bila dipaksakan dengan kader senior namun tak dilakukan secara demokrasi maka akan merugikan internal Golkar sebagai partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, untuk merealisasikan munas yang diharapkan digelar maksimal Oktober 2016 itu perlu proses karena menyatukan dua kepengurusan yang berselisih.
"Kita bersatu dengan cara terbaik itu ya dengan munas. Maka saya katakan, munas itu harus dipersiapkan dengan baik. Dari DPP, menyatukan dua kepengurusan," tutur Agung.
Kemudian, dia melihat saat ini yang terpenting adalah bisa melakukan langkah yang benar demi kebaikan Golkar ke depannya. Posisi pimpinan hanya untuk sekedar kekuasaan tak bisa dipertahankan karena justru menghambat internal Golkar.
"Keinginan itu bukan sekedar kekuasaan, merebut posisi kekuasaan, tapi butuh melakukan langkah-langkah. Kita harus melepaskan atribut Golkar dari belenggu kepemimpinan yang otoriter, tidak demokratis, oligarki lah," tuturnya.
(hat/erd)











































